Berita

KDM Temukan Sumber Air Aqua Bukan dari Pegunungan, Melainkan Sumur Bor

KENDARIKINI.COM – Sebuah temuan mengejutkan muncul dari inspeksi mendadak yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di salah satu pabrik air minum dalam kemasan Aqua yang berlokasi di kawasan Subang, Jawa Barat.

Dalam kunjungan tanpa pemberitahuan sebelumnya itu, Dedi menemukan bahwa air yang digunakan untuk produksi Aqua ternyata tidak bersumber dari mata air pegunungan alami, sebagaimana selama ini diyakini masyarakat, melainkan dari sumur bor dalam dengan kedalaman mencapai 100 hingga 130 meter.

Momen tersebut terekam dalam video berdurasi lebih dari 20 menit yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel. Dalam video itu, terlihat Dedi tiba di pabrik dan langsung meminta bertemu dengan pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab atas pengambilan air.

Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan. Pihak pabrik menyampaikan bahwa para manajer sedang berada di luar untuk menghadiri sebuah pertemuan penting.

Tidak berhenti di ruang tamu pabrik, Dedi kemudian memutuskan meninjau langsung area belakang pabrik untuk melihat sumber air yang digunakan dalam proses produksi. Di lokasi itu, ia menyoroti kondisi lingkungan sekitar yang terlihat gundul dan rawan longsor, mengingat pabrik berada di kawasan perbukitan.

Menurut Dedi, aktivitas industri besar seperti pabrik air minum di daerah resapan air seharusnya memperhatikan keberlanjutan ekosistem dan keseimbangan lingkungan.

Keterkejutan Dedi memuncak ketika ia mendapati bahwa air Aqua diambil melalui sistem pengeboran dalam (deep well), bukan dari mata air alami sebagaimana diklaim dalam berbagai promosi.

“Oh ini airnya dibor? Saya kira air permukaan, air dari mata air. Ternyata bukan dari mata air, tapi dari sumur pompa dalam,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari Metropolitan.id, Kamis 23 Oktober 2025.

Menanggapi pertanyaan tersebut, seorang staf pabrik menjelaskan bahwa penggunaan sumur bor dalam dilakukan karena dianggap menghasilkan air dengan kualitas terbaik.

Kendati demikian, Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa pengambilan air tanah secara besar-besaran dapat berdampak negatif terhadap cadangan air bawah tanah dan ekosistem sekitar.

Ia menekankan pentingnya perusahaan besar menjaga keseimbangan alam agar tidak menimbulkan krisis air bagi masyarakat di masa depan.

Sementara itu, pihak Aqua menjelaskan bahwa sumber air tersebut tidak diambil dari sumur bor biasa melainkan dari lapisan air tanah alami.

“Air ini terlindungi secara alami dan telah melalui proses seleksi serta kajian ilmiah oleh para ahli dari UGM dan Unpad. Sebagian titik sumber bahkan bersifat self-flowing atau mengalir secara alami,” jelas Aqua dalam keterangan resminya, dikutip dari detik jabar.

Proses pengambilan air ini diklaim sudah mendapat izin resmi dari pemerintah dan diawasi secara rutin oleh Badan Geologi Kementerian ESDM, serta pemerintah daerah setempat.(Amin)*

Back to top button