Desa Wisata Namu Raih Angka Wisatawan Nginap Tertinggi di Sultra

KENDARIKINI.COM – Salah satu indikator positif berkembangnya sebuah pengelolaan desa wisata baik dari atraksi, dan program daya tarik yang dibuat oleh pengelola adalah angka lama menginap wisatawan.
Jika dilihat diberbagai Desa Wisata yang ada di sulawesi tenggara, tentu seluruhnya memiliki Homestay atau rumah tinggal yang kamarnya disewakan oleh pemilik rumah itu sendiri. Karena Homestay salah satu indikator syarat sebuah desa wisata jika merujuk pada indikator jaringan desa wisata kementrian pariwisata.
Menurut Data Indonesia HomeStay Association (IHSA) Provinsi Sulawesi Tenggara (sultra). Salah satu Desa Wisata Di Sultra yng memiliki angka lama nginap wisatawan cukup tinggi adalah Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Meski lokasinya bisa dibilang terisolir karena kondisi akses darat yang selalu bermasalah akibat statusnya jalan perbukitan yang belum ada pengerasan sehingga jika curah huan tinggi akses jalan susah dilalui akibat longsor dan licin, namun wisatawan tetap berkujung dan paling banyak menggunakan akses laut disaat kondisi jalan tidak memungkingkan dilalui.
Ahmad Nizar selaku Ketua IHSA Sultra mengungkapkan bahwa, dari data IHSA Sultra dalam sebulan di Desa Wisata Namu Homestay pasti terisi.
“Average Length of Stay atau rata-rata lama nginap wisatawan di Desa Wisata namu dalam sebulan bisa terisi 15 sampai 20 Kamar. lama menginap wisatawan (ketika minimal menginap satu malam) merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur keberhasilan dan daya tarik suatu desa wisata, karena menunjukkan kepuasan pengunjung dan kualitas atraksi serta pelayanan yang disediakan, serta menunjukkan bahwa desa tersebut mampu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama daripada sekadar kunjungan harian,” jelasnya, Selasa 26 Agustus 2025.
Lanjut Nizar, belum terhitung jumlah wisatawan nginap di desa namu yang menghuni kawasan camping ground. Karena menurutnya 90% pengunjng Desa Wisata Namu adalah wisatawan nginap dengan memilih jenis akomodasi Homestay atau Camping menggunakan tenda. Untuk Camping Ground sendiri sebulan rata-rata dihuni oleh 100 hingga 200 wisatawan dengan lama nginap rata-rata 2 hari 1 malam.
“Untuk angka lama nginap sendiri di Desa Wisata Namu rata-rata 2 hari 1 malam, dan itu sudah gabungan antara wisatawan Paket dan non paket. Artinya ada juga potensi wisatawan lebih dari 1 malam jika membeli paket wisata yang sudah disediakan, ataupun event private yang dibuat sendiri di dalam kawasan desa wisata Namu,” tutupnya.
Kunjungan yang lebih lama juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal, karena wisatawan akan lebih lama berinteraksi dengan produk dan jasa yang ditawarkan.
Pengukuran lama menginap membedakan antara wisatawan yang melakukan kunjungan harian atau ekskursionis tanpa menginap, dengan wisatawan yang melakukan perjalanan minimal satu malam.
Singkatnya, lama menginap wisatawan adalah salah satu penanda kesuksesan desa wisata dalam menyediakan pengalaman yang berharga dan menarik, serta mampu membuat pengunjung memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya mereka di destinasi tersebut tidak hanya sekedar datang berapa jam kemudian pulang meninggalkan desa wisata itu sendiri.*