Gandeng PLN, Darwin Bakal Listriki Pulau-Pulau Terpencil di Muna Barat

KENDARIKINI.COM – Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, menggandeng Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah kepulauan yang selama ini masih gelap gulita. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret realisasi janji politik Darwin dan Wakil Bupati Ali Basa dalam mewujudkan pemerataan pembangunan.
Kesepakatan pembangunan jaringan listrik dicapai usai pertemuan antara Darwin dengan Manager PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Sulawesi Tenggara, Joni Sitorus, serta Manager PLN UP3 Baubau, Bagus Cahyadi.
“Kesimpulan dari hasil pertemuan, pembangunan jaringan listrik akan dimulai tahun ini dan berlanjut hingga 2027. Insya Allah, masyarakat desa di wilayah kepulauan tak lama lagi akan menikmati listrik,” ujar Darwin, Sabtu (19/4).
Program elektrifikasi ini akan menjangkau 11 desa di tiga kecamatan. Di Kecamatan Maginti meliputi Desa Pasipadangan, Gala, Maginti, dan Kangkunawe. Di Tiworo Utara mencakup Santiri, Mandike, Tasipi, Bero, Tiga, dan Santigi. Sementara itu, Desa Katela di Kecamatan Tiworo Kepulauan juga akan tersambung listrik.
Darwin menegaskan, pemenuhan layanan listrik adalah bagian dari strategi pembangunan berkeadilan dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita tidak ingin ada kesenjangan pelayanan hanya karena kendala geografis. Listrik adalah kebutuhan dasar, dan masyarakat pulau juga berhak mendapatkan layanan setara dengan masyarakat di daratan,” tegasnya.
Ia menambahkan, hadirnya listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga peningkatan ekonomi warga.
Selain listrik, Darwin menyebut air bersih juga menjadi prioritas. “Untuk air bersih, kami sedang mencari formulasi terbaik agar masyarakat di pulau-pulau juga terlayani,” ucapnya.
Kabar elektrifikasi disambut antusias oleh warga. Parman, warga Desa Katela, menyebut ini sebagai mimpi yang akhirnya mulai terwujud.
“Kalau listrik benar-benar masuk, itu akan mengubah segalanya. Anak-anak bisa belajar malam hari, nelayan bisa simpan ikan pakai es, warung kecil bisa pakai kulkas. Kami sudah terlalu lama bertahan dengan genset mahal atau gelap-gelapan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Parman berharap proyek ini benar-benar terealisasi, bukan sekadar janji. “Kami ingin diperlakukan sama. Jangan karena tinggal di pulau, kami jadi yang terakhir menikmati pembangunan,” tutupnya.*