Petani Pomalaa Geruduk PT IPIP

KENDARIKINI.COM – Gabungan Kelompok Tani Bersatu Padu Desa Lamedai dan Oko-oko menggelar aksi unjuk rasa di kawasan industri Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) yang berada di Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka pada Kamis 25 November 2025.
Jendral lapangan aksi, Johan mengatakan bahwa Pembukaan lahan yang dilakukan oleh PT IPIP menghasilkan deforestasi yang cukup luas, yang beririsan langsung dengan sungai oko-oko.
Akibat pembukaan lahan tersebut, kata dia, menyebabkan lemahnya daya dukung dan daya tampung di Sungai Oko-Oko sehingga air hujan turun langsung ke sungai Oko-Oko dan menyebar ke sawah di Lamedai beserta lumpur yang merendam sawah di Desa Oko-Oko dan lamedai.
Dirinya menjelaskan bahwa PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP), yang berlokasi di Kabupaten Kolaka Kecamatan Pomalaa dengan luas lahan sekitar 11.100 hektar.
Saat ini, lanjut dia, PT IPIP dalam masa pembangunan jalan hauling, HPAL (High Pressure Acid Leaching), Smelter dan pembangunan lainnya untuk menunjang proses kesiapan Operasional PT IPIP.
Proyek Strategi Nasional itu, sambung dia, menyisahkan luka bagi ratusan Petani sawah di desa Lamedai dan Oko-Oko, terhitung 247 Ha sawah terendam banjir pada tanggal 18 Oktober dan 10 November 2025.
”Ancaman gagal panen menghantui ratusan petani di desa Lamedai dan oko-Oko, Pematang yang jebol karena banjir, akses jalan yang sulit di lewati dan irigasi yang macet,” ungkapnya dalam rilis yang diterima media ini.
Pihaknya mendesak PT IPIP untuk melakukan ganti rugi bagi sawah petani yang terendam banjir serta melakukan normalisasi sungai Oko-Oko dan Tanggul sepanjang aliran sungai sampai di muara.
”Kami meminta perusahaan melakukan pembangunan saluran sekunder pada tanggul sungai oko-oko menuju Persawahan Lawani dan melakukan perbaikan terhadap jalan usaha tani yang rusak akibat banjir,” pungkasnya.
Masa aksi juga meminta kepada pemerintah terkait untuk melakukan pengawasan terhadap kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh PT IPIP yang mengancam ketahanan pangan bagi ratusan masyarakat di desa Lamedai dan Desa Oko-Oko.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari PT IPIP.*





