Opini

Absurditas Kekuasaan

Oleh : MHR. Shikka Songge

Setelah Buzzer tenggelam dan kalah pamor, maka muncullah gerombolan wartawan Projokowi menista Gubernur DKI, Anies Baswedan. Jauh sekali profil kenegarawanan, dan tidak bisa menjadi objec pembelajaran, kalau selalu menampilkan profil paradoks pada publik. Lalu kapan akal sesatmu berhenti menyesatkan rakyat di negeri ini. Dan sampai kapan Kekuasaan Absurdmu kembali sehat dan normal, sehingga negeri ini terbebaskan dari dilema absurditas wahai para penguasa.

Oh ternyata asumsi yang beredar di public itu benar adanya. Bahwa kalian hanya bisa membayar Buzzer dan Wartawan Nasi Bungkus dengan uang negara untuk melakukan hal hal yg menjadi kehendak syahwat politik kalian, yaitu menyerang Anies dan meprovokasi rakyat, guna mempertahankan sisa kekuasaan yang tinggal di ujung tanduk. Dengan adanya fenomena Buzzer dan Wartawan Nasi Bungkus seperti ini, rezim absurd telah memperlihatkan kondisi objektifnya, bahwa sejatinya rezim ini telah terdegradasi, kehilangan dukungan dan delegitimasi publik.

Belum sadarkah kalian semua atas kehadiran Wabah Virus Corona Yang Membaw Misi Ilahy Mengingatkan kalian semua atas skenario kejahatan politik yg kalian lakukan di era demokrasi liberal ini ? Tidakkah kalian sadar bahwa skenario itu hanyalah akan meruntuhkan akhlaq politik dan mencoreng martabat bangsa di mata Internasional ?

Bukankah negeri ini hasil karya peradaban dari anak anak revolusioner, akal cerdas, budi luhur, pemikiran cemerlang anak anak bangsa yg berkarakter dan berintegritas ? Bukankah para pendiri negara mewariskan pada kita suatu doktrin bernegara, bahwa sesngguhnya Demokrasi adalah Pertarungan rasionalitas, idialitas kaum Akal Sehat?

Publik memahami bahwa kemenangan kalian di pertarungan Pilpres dengan merampok suara rakyat. Kalian bersekutu dengan KPU untuk mengumumkan kemenangan Joko Widodo di malam hari saat warga tertidur lelap. Kalian bunuh 600 lebih petugas penghitung suara, pengawal demokrasi. Kalian bersekutu pula dengan Mahkamah Konstitusi untuk mengesahkan kemenangan Joko Widodo di pilpres 2019. Perolehan kemenangan yg sangat memalukan. Dan ternyata Kalian Tidak Pernah Malu Pada Rakyatkan atas semua manipulasi dan kebohongan yg terjadi ? Kemenangan yg kalian peroleh sangat diharamkan oleh etika Agama.

Belum lagi kalian dg arogan menggunakan keamanan negara, seperti Brimob untuk membantai penduduk dan activis yg tak berdosa di depan Bawaslu sore hari. Padahal penduduk dan activis sedang menuntut suara politik mereka yg hilang. Dan kalianpun menggunakan alat keamanan negara, lagi lagi Brimob yg memuntahkan peluru panas nyasar kemana mana. Peluru nyasar itu menghujani penduduk tengah berdoa di dlm masjid. Peluru nyasar juga menimpa anak usia sekolah di petamburan menjelang pagi dini hari. Kalianpun menculik activis yang menolak cara tiran pemerintahan Jokowi. Semua itu kalian lakukan untuk menghilangkan jejak, mengintimidasi rakyat, Demi Absurditas Kekuasaan

Di dalam theologi islam diajarkan bhw kekuasaan itu hanya milik Allah semata, bukan milik manusia. Kekuasaan itu didistribusikan oleh Allah kepada mereka yg memiliki kepantasan, kepatutan dan kecakapan untuk memimpin, pada merekalah yg akan menerima amanah kekuasaan. Allah berfirman dalam al Quran surat ali imran ayat 26, “Katakanlah wahai Muhammad bhw Kekuasaan itu milik Allah, akan Allah berikan pada siapa yg Allah suka, dan Allah cabut kekuasaan itu dari siapapun yg Allah suka. Dan Allah akan berikan kemuliaan kepada siapa yg Ia suka dan Allah akan sesatkan siapapun yg Ia suka. Dlm perspektif theologis pula kekuasaan harus diperoleh dg cara yg tepat dan difungsikan secara tepat untuk mengurus negara.

Olehnya tidak pantas kekuasaan itu dikontestasikan secara liberalistik dg biaya capital yg fantastis di dalam negara yg berdasarkan Ideologi dan Falsafah Pancasila. Mengingat para fonding fathers telah bersepakat bhw sistem pembentukan kekuasaan negeri ini melalui musyawarah dan mufakat oleh para ahli hikmah. Merekalah yg punya kewenangan untuk membentuk kekuasaan.

Nah sekarang perkembangan dewasa ini sdh berubah, sejak reformasi sistem yg ideal itu telah diruntukan oleh persekutuan pemilik modal. Olehnya keberadaan negara saat ini telah dirampok dan dimonopoli oleh kelompok oligharcy (ppersekutuan pemilik modal dan pemilik partai) dan mereka mengurus negara seperti halnya perusahaan, dimanfaatkan untuk merampok kekayaan negara. Rakyat seakan hidup dg KTP tetapi tanpa kedaulatan. Lembaga negara kita dikendalikan oleh perusahaan negara, sehingga demokrasi lumpuh, hukum tumpul, politik dijalan secara tirani.

Apakah kalian kira rakyat tertipu oleh akal bulus dan akal makar kalian? Rakyat memang tak berdaya karena kebiadaban dan kekejaman operasi kalian yg mengabaikan nilai nilsi kemanusiaan dan kewarasan sosial. Tapi saat ini rakyatpun menjadi semakin faham bhw rezim absurd ini rezim yg paling busuk, paling paling kejam, dan nyata gagal dan memalukan.

Lihat saja penanganan Corona Virus, tumpang tindi, maju mundur, tidak terarah dan tidak focus, terkesan tendensius, ada udang di bakik batu. Pernyataan anggota kabinet tentang penangan Covid 19 tidak saling mendukung. Pura pura serius tapi tidak. PSBB tedengar enak tapi pahit terasa. Di satu sisi menekan rakyat untuk lockdown, karantina, tidak boleh mudik, tapi sisi lain membiarkan TKA asal cina pembawa virus terus bermigrasi ke tanah air. Absurdkan?

Pelepasan para tahanan Napi dari lapas juga dinilai tendensius. Di tengah Corona Virus menerpa, rakyat lockdown, krisis ekonomi pun terjadi. Lalu untuk apa pemerintah membebaskan napi? Sementara ini kriminalisasi dan keresahan sosial terus terjadi di mana mana dan semakin meningkat eskalasinya. Diduga napi yang dilepas itu akan dimainkan menjadi faktor yang memicu keresahan sosial di arus bawah. Bila keresahan timbul di berbagai wilayah terus menerus dan tak terkendalikan maka bisa memicu timbulnya kerusuhan sosial. Bila kerusuhan sosial terjadi maka inilah peluang yang dinanti Joko Widodo akan memberlakukan Darurat Sipil. Dan inilah jalan menuju legitimasi politik bagi Joko Widodo untuk mempertahankan kekuasaan yang sedang rapuh.

Bagi pendukung setia Presiden Joko Widodo berhentilah memitoskan Jokowi. Tapi bangunlah akal sehat, bernerasi yg cerdas dalam membangun negeri. Harus diakui bhw Joko Widodo hanyalah simbul apsurd yang dipakai oleh kekuatan pemodal untuk agenda penguasaan dan perampokan aset ekonomi nasional. Lihat migrasi besar besaran TKA asal Cina membanjiri ke tanah air kita, mereka disebar ke Kendari, Palu, Ternate, Papua, Kalimantan dll. Dan hal ini tentunya sangat membahayakan kaum pribumi pemilik negeri ini di masa depa. Kecerdasan dan kejujuran Joko Widodo sangat tidak cukup sebagai modal dasar untuk memimpin negeri yg super besar ini. Bagaimana mungkin Indonesia yg memiliki permasalahan yg compleks, penduduk yg beragam, serta kekayaan sumber daya alam yg melimpah ini dipimpin oleh orang yg tidak cukup sarat ?

Rakyat yg waras bisa membedakan antara pemimpin negara sekaligus negarawan sejati, – pempinpim absurd budak dan pecundang. Jangan dikira rakyat diam artinya setuju, tapi diamnya rakyat menyimpan bom waktu, yg sewaktu waktu bisa meledak.***

kendarikini.com

Update Berita Kendari Hari Ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button