Opini

Bupati Konawe Utara Bisa Apa Ditengah Kepungan Penambang Ilegal?

Oleh: Ibrahim Ketua Aliansi Mahasiswa Pemerhati Lingkungan dan Kehutanan (AMPLK) Sultra

Ku awali tulisan ini dengan segelas kopi susu yang telah diseduh di salah satu warung kopi dipinggiran Wanggudu dan ditemani sebungkus rokok kesukaanku.

Kumulai tulisan ini dengan sebuah tanda tanya yang akan kujawab melalui tulisan ini.

Di salah satu media online Bupati Konut Ruksamin mengaku tak bisa berbuat banyak karena semua kewenangan telah ditarik ke pusat.

Setelah membaca berita tersebut sedikit banyak Saya sebagai salah satu putra daerah kecewa karena seharusnya Bupati Konut bisa berbuat lebih ketimbang hanya pasrah akan keadaan.

Rasa kecewa semakin bertambah ketika Bupati dua periode aktif tersebut memuji dua perusahaan tambang besar di Sultra yang dimana dua perusahaan tersebut kerap mendapatkan sorotan.

Seakan menjadi Humas bagi perusahaan tersebut, bahkan seakan melawan masyarakatnya sendiri yang sedang menyoroti dua perusahaan tersebut akibat debu batubara dan persoalan kelengkapan izin.

Tetapi di sisi lain ia malah menyoroti berteriak lewat media salah satu Kantor Syahbandar bukan langsung turun lapangan mengecek keadaan.

Bahkan terakhir pernyataanya dibantah langsung oleh yang bersangkutan.

Apakah Bupati Konut tidak bisa seperti Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir yang mengadukan penambangan pasir ilegal ke KPK RI bahkan menyegel tempat tersebut.

Atau seperti Bupati Buton Tengah yang menyegel dan meminta peninjauan ulang atas penertiban IUP tambang pasir di wilayahnya.

Jawabnya hanya Bupati Konut yang dapat menjawab di sisa masa jabatannya.

Ayolah Bapak Bupati jangan pasrah dengan keadaan, segel semua aktivitas penambangan ilegal di Blok Marombo Mandiodo dan suarakan kepentingan masyarakat.

Kami masyarakatmu harus sejahtera ditengah banyaknya perusahaan tambang di Konawe Utara.

kendarikini.com

Update Berita Kendari Hari Ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga
Close
Back to top button