Catatan Luthfi Badiul Oktaviya

Dahaga Penantian (Luthfi Badiul Oktaviya)

Berapa lama lagi aku perlu duduk, menanti dalam keresahan?
Kau bilang tak lama, tapi rasanya hampir seabad aku dicumbu waktu.

Jiwaku pupus digerogoti rayap jalanan yang serakah.
Bahkan ludah yang jijik seringkali meluncur pesat, tepat di wajahku yang selalu bisu dan kaku.

Kaki tangan setiap hari menggerayah mencederai fisik dan psikis.
Caci maki selalu saja brutal dalam memecah kesunyian.
Tubuh dan hatiku lebam, penuh luka tawan.

Kekasih, jiwamu yang kurindu rasanya seperti air hujan yang kutunggu-tunggu segera jatuh.
Hari-hari leherku kaku mendongak ke arah Tuhan guna menuntut keadilan.
Tuhanku terlalu kejam, ia menyiksaku dalam dahaga penantian!

Segeralah, basahi aku dan harapanku yang kering ini.
Sungguh, Aku lelah kekasih.
Ingin rasanya berbaring dilenganmu. Mendekap erat jiwamu yang menenangkan, menentramkan dan yang telah lama ku nanti-nanti itu.

Lalu biarkan aku bertanya kesal, kemana saja kau kekasihku? Mengapa begitu lama!?
Dan akan ku hantarkan lelapmu dengan senandung sendu, agar kau mengerti betapa hancurnya aku dalam penantian.***

kendarikini.com

Update Berita Kendari Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button