Politik

Direktur Eksekutif IDi-Si : Ragukan Status, Militan dan Loyalitas Haerul Saleh Terhadap Partai Gerindra

BOMBANA – Duka cita yang dirasakan partai gerindra, setelah ditinggalkan oleh kader terbaiknya almarhum H. Imran (28/3), Ditengah kedukaan itu petinggi partai gerindra dalam hal ini DPP Partai Gerindra harus memutar otak untuk memilih Pengganti Antar Waktu (PAW) Partai Gerindra minimal mempunyai integritas dan loyalitas yang sama.

Direktur Eksekutif Institut Demokrasi & Social Indonesia (IDi-Si) Alfian Syarif mengatakan DPP Partai Gerindra harus selektif dalam menempatkan kader potensial pada posisi yang strategis dalam hal ini soal PAW, kami berharap DPP tidak asal-asalan dalam memilih apalagi orang yang tidak memiliki loyalitas terhadap partai dan tidak memiliki integritas sangat tidak layak ditempatkan pada posisi PAW.

“Kader yang militansinya dipertanyakan, secara otomatis akan menjadi ancaman bagi partai apabila ditempatkan pada posisi yang strategi, Kita lihat saja bagaimana kejadian beberapa tahun lalu, tepatnya pada saat kontestasi pilcaleg , caleg dari partai gerindra mencoreng nama baik partai setelah didapatkannya penggelembungan suara oleh salah satu caleg DPR RI partai gerindra Haerul Saleh,” jelasnya dihubungi via telepon.

lanjut Tokoh Pemuda Bombana menambahkan tidak hanya itu, setelah Haerul saleh gagal berkiprah di senayan , ia mendaftarkan diri sebagai anggota BPK RI pada tanggal 19 juli 2019, Dalam pasal 13 undang-undang nomor 15 tahun 2006 tentang BPK RI memang tidak mensyaratkan harus mundur dari parpol pada saat pendaftaran, lain cerita ketika terpilih dengan secara otomatis harus keluar dari parpol atas dasar independensi lembaga terkait. Pada intinya haerul saleh sudah mengetahui bahwa menjadi anggota BPK sama halnya kader tarik diri partai tersebut.

“Pada¬† kasus diatas untuk menilai ketidaklayakan haerul saleh ditempatkan pada posisi strategis, pada saat pilgub kemarin Haerul Saleh¬† menampakkan dirinya sebagai kader yang tidak militan dan loyal terhadap partainya sendiri. Pada saat itu DPP Partai Gerindra mengusung pasangan Asrun-Hugua sebagai calon Gubernur Sultra ia malah keluar dari keputusan tersebut dan memilih untuk mendukung pasangan lain,” ungkapnya.

Militansi dan loyalitas kader partai akan nampak ketika seluruh keputusan DPP partai selalu satu jalur bukan malah melawan arus,
Bahkan status keanggotaanya patut kita ragukan bersama, soalnya Haerul Saleh berani sekali mempertaruhkan status keanggotaanya saat mendaftarkan diri sebagai Calon Anggota BPK RI

“Ketiga kasus tersebut menunjukkan bahwa haerul saleh tidak militan, tidak loyal terhadap partai sendiri dan status keanggotaan patut diragukan, Haerul Saleh kami rasa sangat tidak layak untuk ditempatkan sebagai PAW Partai Gerindra Sultra,” tutupnya.***

kendarikini.com

Update Berita Kendari Hari Ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button