Opini

KEMENAG; Mafia Bertopeng Agama

Virus corona jika di liat menggunakan kacamata agama bisa di katakan sebagai peringatan dan cobaan bagi umat manusia, tentunya harus di manfaatkan sebagai momentum untuk bermuhasabah. Telah terdata 3,1 Juta kasus, 951.030 Sembuh dan 217.094 Meninggal (29/04), cukup mengerikan bukan?. Bahkan Negara super power sekelas Amerika Serikat sekalipun sampai kewalahan manangani wabah yang mengerikan ini.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang (Perppu) No 1 Tahun 2020 adalah salah satu upaya di bidang keuangan dalam mengintervensi penyebaran Covid 19 di Tanah Air sekalipun terkesan lamban dan menuai polekmik tetapi setidaknya pemerintah pusat sudah berusaha untuk hadir di tengah-tengah ke khawatiran rakyat dan kita harus syukuri itu.

Dilingkup society #DiRumahAja merupakan salah satu upaya yang dibangun melalu gerakan digitalisasi dengan tujuan saling mengingatkan agar tidak kemana-mana serta upaya memotong mata rantai penyebaran virus corona. Sejak kemunculan virus ini terntunya berdampak hampir di semua sector baik itu ekonomi, hukum, politik, kesehatan, social sampai dengan pendidikan sekalipun.

Khusus di sector pendidikan kebijakan kuliah online (daring) adalah opsi yang di gunakan sebagai strategi dalam menghadapi pandemi dan tentu tujuannya yakni memutus mata rantai penyebaran covid-19. Di luar dugaan kebijakan kuliah daring menuai polemik “Kuliah Daring Dompet Kering” adalah salah satu kalimat meme yang di aspirasikan mahasiswa di berbagai media sosial menuntut kiranya ada kebijakan terkait kuliah daring yang terkesan tidak pro dengan kondisi perekonomian mahasiswa di tengah pandemi.
Ucup di cinta ulampun tiba terkhusus Perguuan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) melalui Plt. Direktorat Jendral Pendidikan Islam telah mengeluarkan surat dengan Nomor B-752/DJ.I/HM.00/04/2020 tentang pemberian diskon UKT (Uang Kuliah Tunggal) sebesar 10% kepada mahasiswa di semua jenjang study, bagaikan angin segar sontak kebijakan itu di sambut positif oleh mahasiswa terkhusus mahasiswa IAIN Kendari, sekalipun hanya 10% setidaknya kebijakan itu bisa mengurangi beban ekonomi keluarga.

Sayangnya kebijakan itu bagaikan kemarau setahun di hapuskan hujan sehari, setelah turunnya surat dengan Nomor B-802/DJ.I/PP.00.9/04/2020 terkait pembatalan diskon UKT sebesar 10% dengan alasan bahwa kebijakan pengurangan UKT akan berdampak pada terbatasnya anggaran operasional dan penyelenggaraan PTKIN. Apakah Dirjen Pendis tidak sekonsisten itu? Apakah anggaran operasional lebih penting di banding taraf ekonomi mahasiswa di tengah pendemi?

Kapitalis dan Tidak Konsisten

#Kemenagprank menjadi training di twitter, itu merupakan wujud kekecewaan mahasiswa terkait batalnya kebijakan pemotongan UKT mahasiswa dan penulis menilai bahwa kebijakan itu sangat sepihak serta tidak mempertimbangkan ekonomi mahasiswa di tengah pandemi yang tentunya itu sangat berpengaruh. Dirjen Pendidikan Islam terkesan serakah yang hanya mengutamakan anggaran operasional saja, berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 7 Tahun 2018 pada pasal 14 terkait ketentuan biaya opersioanal penulis menilai itu tidak begitu prioritas di tengah wabah pandemi. Masa depan generasi bangsa adalah prioritas, jangan memberikan label yang buruk dengan mengambil keuntungan dan memeras dompet orang tua mahasiswa terlebih lagi pada situasi seperti ini. Semestinya sebagai icon Pendidikan Agama sikap inkonsisten itu jangan di contohkan di hadapan generasi bangsa, itu memalukan.

Ikhlas Beramal Hanya Sebatas Simbol

Siapa yang tidak kenal dengan tulisan Ikhlas Beramal pada logo Kementrian Agama, tentunya itu kita percaya sebagai spirit dalam menyebarkan siar – siar agama bukan hanya sebatas symbol tetapi dapat tertuang dalam wujud implementasi, sehingga dapat berdampak pada tata nilai yang nantinya dapat di teladani oleh generasi bangsa. Tetapi sayangnya semua itu hanya omong kosong belaka jika kita melihat sikap Dirjen Pendidikan Agama yang plimplan, tidak konsisten, menyulitkan mahasiswa serta terkesan mencari keuntungan di tengah pendemi dalam menggambil kebijakan. Jika seperti ini apakah tidak kasian pada generasi bangsa?

Pada akhirnya penulis ingin menyampaikan, sebagai icon tertinggi Pendidikan Agama jangan mencoba menguras dompet mahasiswa di tengah wabah pandemi ini karena itu sungguh tindakan yang biadab. Penulis juga mengharap kepada suluru mahasiswa PTKIN se Indonesia untuk sama – sama memperjuangkan hak kita dengan mendesak kementrian agama untuk segera mengambil kebijakan terkait pengurangan biaya UKT Mahasiswa.

WaullahuAlam.***

kendarikini.com

Update Berita Kendari Hari Ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button