
Kepemimpinan dalam partai politik lokal bukan sekadar persoalan elektoral, melainkan soal bagaimana sebuah organisasi mengelola kekuasaan, merawat institusi, dan menempatkan diri dalam ekosistem pemerintahan daerah.
Di DPD II Golkar Kota Kendari, era kepemimpinan LM. Inarto, ST dapat dibaca sebagai periode konsolidasi yang menekankan stabilitas, rasionalitas politik, dan relasi kelembagaan yang lebih terukur. Di tengah kompetisi elite yang sering keras dan personal, gaya kepemimpinannya cenderung institusional, bukan impulsif.
Sejak memegang kendali partai, LM. Inarto dihadapkan pada tantangan klasik politik lokal, menjaga soliditas internal, mempertahankan pengaruh Golkar di DPRD, serta mengelola hubungan dengan pemerintah kota tanpa kehilangan posisi tawar.
Dalam konteks ini, kepemimpinannya lebih menonjol sebagai manajer politik ketimbang agitator. Ia memilih mengelola konflik secara elegan, memediasi kepentingan, dan menghindari polarisasi terbuka yang bisa merugikan partai.
Secara internal, Golkar Kendari di bawah kepemimpinannya relatif terjaga dari perpecahan frontal. Dinamika tentu ada, sebagaimana lazim dalam partai besar, namun tidak berkembang menjadi konflik destruktif.
Ini menunjukkan kemampuan memelihara kohesi organisasi, sesuatu yang kerap diremehkan tetapi sangat menentukan daya hidup partai dalam jangka panjang. Partai yang solid bukan hanya menang pemilu, tetapi mampu bertahan dari turbulensi elite.
Di level hubungan dengan DPRD Kota Kendari, kepemimpinan politik LM. Inarto berkontribusi pada ritme kerja yang lebih stabil. Fraksi Golkar tidak tampil sebagai kekuatan yang semata-mata konfrontatif, tetapi sebagai aktor legislatif yang kalkulatif: kritis ketika diperlukan, kooperatif ketika strategis.
Pola ini menciptakan ruang politik yang lebih produktif, di mana perdebatan kebijakan tidak selalu berubah menjadi pertarungan ego kepentingan.
Relasi Golkar dengan eksekutif juga menunjukkan karakter kepemimpinan yang seimbang. Partai tidak larut dalam subordinasi, tetapi juga tidak terjebak dalam oposisi permanen. Posisi tengah semacam ini penting dalam tata kelola daerah, karena memungkinkan kontrol demokratis tanpa menghambat roda pemerintahan. Dalam banyak kasus, stabilitas politik lokal justru ditopang oleh kemampuan elite partai mengelola perbedaan secara pragmatis.
Dari perspektif publik, kepemimpinan LM. Inarto dapat dilihat sebagai upaya menjaga kredibilitas Golkar sebagai partai yang relevan, bukan sekadar kendaraan kekuasaan. Orientasi kebijakan partai relatif selaras dengan agenda pembangunan daerah, terutama dalam isu regulasi, pelayanan publik, dan stabilitas kelembagaan. Meski tidak selalu tampil populis, pendekatannya mencerminkan logika pemerintahan yang berorientasi sistem, bukan pencitraan sesaat.
Namun, kepemimpinan semacam ini juga memiliki risiko politik. Gaya yang terlalu konsensus sering dituduh kurang tegas atau kurang heroik di mata sebagian kader yang menginginkan perubahan lebih drastis. Di sinilah letak dilema kepemimpinan partai, antara stabilitas dan transformasi, antara kontinuitas dan inovasi. LM. Inarto cenderung memilih kontinuitas yang terukur ketimbang lompatan politik yang berisiko.
Dalam lanskap politik Kendari yang semakin kompetitif, pertanyaan strategis bukan hanya siapa yang memimpin Golkar, tetapi bagaimana partai ini mempertahankan pengaruhnya tanpa kehilangan legitimasi moral. Kepemimpinan LM. Inarto memberikan satu model, kekuasaan dikelola melalui dialog, institusionalisasi, dan keseimbangan relasi, bukan melalui dominasi atau polarisasi.
Pada akhirnya, era kepemimpinan LM. Inarto menandai babak penting dalam perjalanan Golkar Kendari, sebuah periode di mana partai belajar menjadi kekuatan politik yang lebih dewasa, terkelola, dan berorientasi kelembagaan. Apakah model kepemimpinan ini akan diteruskan atau diubah, akan sangat bergantung pada bagaimana elite dan kader Golkar memaknai kebutuhan politik mereka ke depan. Yang jelas, jejak yang ditinggalkan bukan sekadar catatan personal, melainkan warisan tata kelola politik yang memengaruhi arah partai dan demokrasi lokal di Kota Kendari.*









