Mahacala UHO, Organisasi Pecinta Alam yang Mampu Taklukkan Dua Puncak Tertinggi di Sultra

Kendari – Mahasiswa Pecinta Alam (Mahacala) Universitas Halu Oleo (UHO) berhasil mencatatkan rekor terbarunya, dengan catatan menaklukkan dua puncak tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Diketahui sebelumnya Mahacala UHO tercatat mampu menaklukkan puncak tertinggi di Gunung Mekongga pada tahun 1995 di Kabupaten Kolaka dengan ketinggian 2.620 (Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL), kemudian baru-baru ini Mahacala UHO mampu menaklukkan puncak gunung Tangkelemboke pada September 2023 di Kabupaten Konawe Utara dengan ketinggian 2.421 MDPL.
Selain melakukan kegiatan perintisan jalur pendakian, Mahacala UHO juga sebagai organisasi Mahasiswa melakukan Tridharma Perguruan Tinggi, Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian ke Masyarakat.
Usai melakukan kegiatan eksplorasi Tangkelemboke, Mahacala UHO melakukan kegiatan bakti sosial disekitar wilayah kegiatan eksplorasi Tangkelemboke dan melakukan ekspose hasil kegiatan tersebut.
Mahacala UHO salah satu organisasi pecinta alam di Sultra berharap semua pihak dapat melibatkan diri untuk menjaga kelestarian alam ditengah gempuran investasi.
Ketua Tim ekspedisi dan eksplorasi Mahacala UHO, Ma’ruf Asrarudin mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk mengeksplor keragaman hayati, flora dan fauna disekitar jalur yang dilalui tim hingga puncak Osu Nando’oto. Selain itu, tim juga melakukan riset sosial ekonomi dan budaya lokal masyarakat Desa Nesowi.
Tim Mahacala UHO juga melakukan bakti sosial penanaman bibit pohon ke Sekolah Dasar (SD) dan masyarakat, serta penyerahan buku Iqro’ ke TPQ dan perpustakaan sekolah.
” Kami turun karena memang belum pernah ada data terkait keragaman hayati, pengetahuan lokal, sosial budaya masyarakat lokal di sekitar Tangkelemboke, dan lainnya yang ada di kawasan tersebut,” katanya.
Ma’ruf mengaku bahwa pahun 2013 Mahacala UHO mulai merintis ekspedisi menuju pegunungan Tangkelemboke dengan nama Ekspedisi Halu Oleo 2 dan dilanjutkan dengan Ekspedisi Jalur Hijau pada tahun 2014. Namun, kedua kegiatan ekspedisi tersebut belum mencapai puncak Osu Nando’oto di Pegunungan Tangkelemboke.
Di awal tahun 2023 beberapa anggota Mahacala dan Teras yang tergabung dalam tim ekspedisi Nature Evolution melintasi pegunungan Tangkelemboke dari hulu sungai Latoma, Kabupaten Konawe menuju hulu sungai Lasolo Kabupaten Konawe Utara (Konut).
Dari evaluasi jalur tersebut, Mahacala mendapatkan data referensi dan menjadikan titik awal punggungan 850-an mdpl menjadi basecamp kegiatan ekspedisi dan eksplorasi Tangkelemboke 2023.
Kak Rudi sapaan akrabnya juga mengungkapkan bahwa Pegunungan Tangkelemboke dengan puncak Osu Nando’oto (2.421 mdpl) merupakan kawasan karst yang menjadi “water bank” dan mata air dari hulu Sungai Latoma, Ambekaeri, Konawe’eha, dan lainnya di Kabupaten Konawe serta Kolaka Timur (Koltim), serta hulu sungai Pundoho yang masuk ke sungai Lasolo di Konut.
Sungai yang terletak di jantung daratan Sultra ini amat penting bagi penyedia air bersih dan merupakan wilayah key biodiversity dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem semenanjung daratan Sultra yang termasuk wilayah kawasan Wallacea.
Ketua Tim Penelitian Eksplorasi, M.Ridwan menjelaskan bahwa medan Tangkelemboke yang dihadapi tim eksplorer dalam ekspedisi itu meliputi jalur basah menyusuri sungai bebatuan, air terjun, hutan hujan tropis, zona sub alpin dan alpin diatas ketinggian 2000-an mdpl.
“Riset flora fauna yang dilakukan sepanjang jalur menemukan beberapa spesies endemik yg teridentifikasi maupun yang belum dikenal spesiesnya,” ungkap Ridwan.
Hasil eksplor tersebut, tim Mahacala UHO menemukan flora jenis Anggrek, Kantung semar, Begonia, Edelweis, Lumut, Jamur, berbagai jenis Epifit, dan lainnya. Selain itu, berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi di hutan tropis, hingga fauna yang ditemui meliputi Anoa dataran tinggi, Macaca nigra, Tarsius, Musang, Berang-berang.
Rangkong/Hoa, Sidat/Wiku besar, Pithon reticulatus sepanjang 7 meter, berbagai jenis katak, Apids dorsata, berbagai serangga, kupu-kupu endemik, serta berbagai jenis burung dari ketinggian 200-an mdpl di dekat kampung Nesowi hingga diatas 2.400-an mdpl puncak Osu Nando’oto.
Terakhir Mahacala UHO berharap kawasan pegunungan Tangkelemboke bisa ditingkatkan statusnya sebagai kawasan cagar alam atau suaka marga satwa bahkan harapan tertinggi bisa dijadikan taman nasional.*









