GMNI Kendari Gelar Dialog Kebangsaan dan Konfercab V, Wacana Negara Federal Mengemuka

KENDARIKINI.COM – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari menggelar Dialog Kebangsaan sekaligus Konferensi Cabang (Konfercab) ke-V di hotel srikandi pada Jumat, 7 November 2025.
Dialog kebangsaan ini mengangkat tema besar “Sultra Maju, Indonesia Emas 2045: Mengoptimalkan SDM dan SDA Untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”.
Dalam dialog ini turut hadir Wakil Ketua Komite II DPD RI Umar Bonte, Muh. Endang SA Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tenggara (Sultra), Akademisi Fisip Universitas Halu Oleo (UHO) sekaligus pengamat politik Sultra Najib Husain
Ketua Umum DPD Partai Demokrasi Sultra Muh. Endang SA mengatakan bahwa bumi anoa memiliki kandungan nikel sekitar 55 persen.
Lebih lanjut, kandungan nikel tersebut dapat mencapai angka senilai Rp90 ribu Triliun. Hal ini menunjukkan Sultra sebagai daerah yang cukup berkontribusi terhadap Indonesia.
Ironisnya, kekayaan nikel tersebut belum relevan dengan kehidupan masyarakat di Sultra. Pasalnya angka kemiskinan didaerah sejauh ini masih terlampau tinggi.
“Kekayaan alam kita ini tidak koheren dengan kondisi kekinian kita. Kemiskinan kita tinggi masih dia digit hampir sebelas persen,” kata Endang.
Kemudian kontribusi nikel tersebut belum sepenuhnya berpihak pada pembangunan di Sultra. Fenomena ini, kata Endang, menyuarakan pembentukan negara federal.
Keberadaan negara federal ini bertujuan untuk memberikan akses pembangunan yang merata disetiap daerah. Bahkan Endang sangat optimis, Sultra sangat siap untuk menjadi negara federal.
Senada dengan Wakil Ketua Komite II DPD RI La Ode Umar Bonte, bahwa negara federal sangat dibutuhkan.
“Apa yang disampaikan oleh bang Endang tadi bahwa itu sebagian keluh kesah rakyat Sulawesi Tenggara berkaitan dengan peran pusat terhadap daerah. Bahwa beliau mengusulkan Indonesia ini lebih tepat sebagai negara federal, saya setuju untuk hal itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan sebenarnya Indonesia telah menerapkan praktik negara federal melalui otonomi daerah, namun kenyataannya belum dirasakan secara menyeluruh dikalangan masyarakat.
“Sebenarnya kita sudah memulai federal, cuma setengah hati,” jelasnya.
Sementara itu, Akademisi Fisip UHO yang juga pengamatan politik Sultra menegaskan pentingnya peran GMNI dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan menjaga nilai-nilai nasionalisme di tengah arus globalisasi dan ketimpangan ekonomi.
Selain itu, GMNI juga didorong untuk selalu menumbuh kembangkan ajaran soekarno melalui paham Marhaenisme.
Dialog kebangsaan dan Konfercab V GMNI Kendari ini diharapkan menjadi momentum refleksi dan konsolidasi bagi mahasiswa nasionalis untuk berperan aktif dalam memperjuangkan keadilan sosial, serta mendorong Sultra menuju visi Indonesia Emas 2045.(Amin)*







