KENDARIKINI.COM — Direktur Geopolitik GREAT Institute Teguh Santosa memaparkan perkembangan pembangunan Sahara Maroko di Komite 4 PBB.
Teguh yang juga dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hadir sebagai petisioner dalam sengketa Sahara.
Kehadirannya menjadi yang keempat dalam forum Komite 4 PBB yang membahas persoalan dekolonisasi dan sengketa Sahara.
Lebih dari 100 petisioner turut berpartisipasi dalam pembahasan sengketa Sahara Maroko yang dikenal sebagai Sahara Barat tersebut.
Dalam pernyataannya, Teguh menekankan pembangunan sebagai hak fundamental setiap individu dan komunitas.
Ia menyoroti penerapan New Development Model sejak 2015 yang dinilai mengubah wajah Laayoune dan Dakhla.
Menurut Teguh, kedua kota tersebut berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Sahara Maroko.
“Saat berkunjung ke Dakhla pada Agustus 2024, saya menyaksikan sendiri besarnya kemajuan ini,” kata Teguh.
Ia menyebut pembangunan tersebut menunjukkan komitmen meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Teguh juga memaparkan pembangunan infrastruktur strategis, termasuk Jalan Tol Tiznit-Dakhla dan Pelabuhan Atlantik Dakhla.
Pembangunan tersebut dinilai memperkuat konektivitas Sahara dengan koridor perdagangan Atlantik dan Afrika Barat.
Selain itu, investasi energi terbarukan dan fasilitas desalinasi air disebut memperkuat kemandirian sumber daya kawasan.
Teguh turut menyoroti partisipasi politik masyarakat di Provinsi Selatan dalam pemilu 23 September lalu.
Ia menyebut tingkat partisipasi pemilih mencapai 60 hingga 80 persen di sejumlah wilayah.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam institusi nasional.
Teguh juga menyebut dukungan internasional terhadap Maroko semakin luas melalui pembukaan konsulat asing di Laayoune dan Dakhla.
Ia menilai lebih dari 130 negara anggota PBB telah memberikan dukungan terhadap posisi Maroko.
Teguh berpandangan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2797 (2025) perlu menjadi pedoman penyelesaian politik sengketa Sahara.
Ia berharap momentum tersebut dapat mendorong stabilitas, perdamaian, dan penyelesaian politik berkelanjutan di kawasan.*













