KENDARIKINI.COM — Nobar dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” digelar di Warisan Ayah Coffee, Kendari.
Kegiatan ini menghadirkan ruang refleksi sosial bagi peserta, khususnya terkait isu kemanusiaan dan lingkungan di Papua.
Film tersebut menampilkan relasi masyarakat Papua dengan hutan sebagai bagian penting kehidupan dan identitas mereka.
Narasi visual kuat dalam film menggambarkan hutan bukan sekadar wilayah, tetapi sumber keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Penyair Sulawesi Tenggara, Ahmad Ridwan Wanderer, menyebut film ini membuka ruang empati lebih luas.
“Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi cermin realitas yang sering terabaikan,” ujar Ahmad Ridwan Wanderer.
Ia menilai perubahan sosial terjadi perlahan, namun berdampak besar bagi masyarakat yang bergantung pada alam.
Menurutnya, masyarakat Papua memandang hutan sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan sehari-hari.
“Hutan harus dijaga agar babi tetap hidup, karena itu bagian tradisi mereka,” tambahnya.
Diskusi usai pemutaran film memperkaya sudut pandang peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Beberapa peserta mengaku film ini menghadirkan perspektif baru tentang makna pembangunan dan kemajuan.
Kegiatan ini menunjukkan film dapat menjadi media kritik sosial sekaligus jembatan empati masyarakat.
Ruang dialog seperti ini diharapkan terus terbuka untuk memperluas pemahaman isu kemanusiaan dan lingkungan.*










