KENDARIKINI.COM – Gerbang Kendari-Toronipa salah satu proyek mercusuar eks Gubernur Sultra, Ali Mazi, menuai sorotan publik.
Novelis Tere Liye secara khusus mengunggah postingan di akun facebook miliknya.
Di Sultra, kritikan pedas datang dari Politisi Partai Demokrat, Muhammad Endang. Menurut Endang, gerbang Toronipa tersebut salah proyek mercusuar Ali Mazi yang menelan anggaran hingga Rp 34 Miliar.
“Itu bagian dari proyek lanjutan dari pembangunan jalan Kendari-Toronipa. Anggarannya cukup bombastis sekira satu triliunan,”ujar Endang.
Endang juga tak lupa menyoroti berbagai pembangunan Ali Mazi yang tak kalah mentereng memakai anggaran.
Endang menyebut, pagar kantor gubernur dan penataan halaman menelan anggaran Rp 250 Miliar, perpustakaan internasional Rp 100 M, rumah sakit jantung Rp 450 M, dan patung Oputa Yiko Rp 70 M.
Sudah berulang kali, kata Endang, pihaknya mengingatkan proyek tersebut sangat mubazir.
Iya menilai proyek tersebut belum urgent. Tapi Eks Gubernur Sultra beserta kompatriotnya tetap saja bebal dan jalan. Bahkan dirinya, saat itu, malah dituduh cari panggung, dinilai politis, dan bodoh.
“Ada info saat itu saya bahkan dicari-cari kesalahan saya untuk dibungkan dan dikriminalisasi,”terangnya.
Masih kata Endang, selain karena bebalnya Ali Mazi, proyek tersebut diduga kuat ikut diamini oleh DPRD Sultra. Dugaan Endang jalannya proyek tersebut karena mendapat dukungan dari Ketua DPRD Sultra, oknum Aleg DPRD Sultra, dan juga dari Parpol.
Dari penelusurannya, proyek tersebut, sebagian besar proyek-proyek itu tidak dibahas di DPRD, dan tiba-tiba muncul di APBD Sultra.
“Tentu ini bisa terjadi karena ada dugaan perselingkuhan oknum pimpinan DPRD dan Gubernur Sultra saat itu,”ucapnya.
Saat ini, tambah Endang, harapan untuk pengusutan tuntas proyek mercusuar itu harus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang turun tangan.
“Harapannya, jika ada temuan kerugian negara. Maka siapapun yang terlibat harus diseret di meja hukum,” pungkasnya.
Sementara itu saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Pahri Yamsul, membenarkan bahwa anggaran pembangunan gerbang tersebut memang mencapai Rp33 miliar. Ia menjelaskan bahwa pilar gerbang menggunakan baja dan dilapisi dengan GRC Board, sesuai dengan desain yang telah disepakati.
“Anggaran sesuai kontrak seperti itu jumlahnya. Pilar beton menggunakan Baja, dinding penutup menggunakan GRC sesuai dengan gambar desain yang telah di sepakati” jelas Pahri melalui pesan WhatsApp pada Minggu, 1 September 2024.
Namun, ketika diminta penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pemilihan GRC Board untuk lapisan luar pilar, Pahri Yamsul mengarahkan media untuk mengonfirmasi kepada Kabid Bina Marga, Harmunadin.
“Kalau itu nanti tanyakan ke penanggung jawab kegiatan namanya pak Harmunadin kabid bina marga, karena ketika itu saya belum ada di dinas Bina Marga sehingga saya tidak tau alasan teknisnya,” ungkapnya.
Namun, saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, pada hari Rabu 4 September 2024, Harmunadin terkesan irit bicara dan enggan memberikan penjelasan rinci.
“Nanti konsultan perencanaan yang jelaskan untuk lebih detailnya,” ucapnya singkat, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Selain itu Konsultan Perencana, Nizar saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp, Kamis, 5 September 2024 mengatakan “Jadikan begini terkait video viral itu di media sosial, kan awalnya itu usulan jaman Pemprov waktu zaman Pak Ali Mazi, pada waktu itu beliau ingin ada satu ikon di jalan menuju wisata Toronipa, yang sedikit berkiblat ke London Bridge yang ada Inggris, tapi kalau yang disana memang beton, dan ukurannya lebih kecil, semacam gapura, dia hanya mengolongi dua lajur jalan, sedangkan kita empat lajur jalan,”.
Lanjutnya dengan kondisi seperti itu tidak bisa dibuatkan beton semua.
“Dengan bentang 30 Meter gerbang Kendari-Toronipa, tanpa adanya topangan, satu-satunya solusi yah dengan rangka baja, itu seperti bangunan-bangunan lainnya juga menggunakan rangka baja dan dilapisi fasat yang sifatnya eksterior, dia bukan struktural itu lah GRC atau campuran beton dengan nilon fiber, dan itu material umum untuk digunakan seperti di Masjid Al-Alam,” ungkapnya.
Sambungnya pihaknya memilih struktur itu agar tidak terlalu berat, dan terhindar dari kemungkinan terbukti jika terjadi bencana.
“Struktur itu dibuat bukan untuk dipukul-pukul, atau dilempari, bukan soal tahan atau tidaknya, tapi peruntukannya untuk mempercantik strukturnya,” tambahnya.
Pihaknya juga mengungkapkan bahwa sebelum penyelesaian seratus persen, beberapa kali ada perusakan dari OTK.
“Sebelum diselesaikan seratus persen juga sudah beberapa kali kita dapat ada yang sengaja merusaki, kontraktor juga pada saat itu sudah melakukan perbaikan, dan pada saat itu kita sudah sampaikan dan sosialisasikan ke masyarakat sekitar untuk dijaga sama-sama ikon pembangunan kita ini,” pungkasnya.*










