Jumat, Oktober 23, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBeritaPemprov Sultra Siaga Kekeringan dan Karhutla, 14 Daerah Alami Kemarau Ekstrem

Pemprov Sultra Siaga Kekeringan dan Karhutla, 14 Daerah Alami Kemarau Ekstrem

KENDARIKINI.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta potensi sebaran asap.

Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sultra, Kamis (22/10/2026).

Rapat dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Sultra, La Ode Saifuddin, dan dihadiri unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, serta instansi terkait.

Asisten Administrasi Umum Setda Sultra, Rony Yakob, mengatakan rapat tersebut menindaklanjuti arahan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang.

Ia menegaskan koordinasi lintas instansi dan pemerintah kabupaten/kota diperlukan untuk menyatukan langkah penanganan bencana.

Sementara itu, La Ode Saifuddin meminta seluruh instansi meningkatkan pemantauan karhutla, khususnya di Kabupaten Bombana dan Kolaka Timur.

Ia juga menekankan pentingnya pelaporan harian titik panas (*hotspot*) kepada gubernur serta penelusuran penyebab kebakaran untuk mencegah kejadian serupa.

Prakirawan BMKG Sulawesi Tenggara, Bismar Rahmat Adi, menjelaskan fenomena El Niño diprakirakan memengaruhi kondisi cuaca hingga awal 2027 dan berpotensi mengurangi curah hujan.

Berdasarkan pemantauan BMKG per 20 Oktober 2026, sebanyak 14 daerah di Sultra mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari.

Wilayah tersebut meliputi Bombana, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Konawe Utara, Muna, Muna Barat, Baubau, dan Kendari.

BMKG memprakirakan curah hujan masih rendah hingga akhir Oktober. Hujan diperkirakan meningkat bertahap pada November, sedangkan sebagian besar wilayah Sultra diprediksi memasuki musim hujan pada pertengahan hingga akhir Desember 2026.

Sejumlah wilayah Bombana diperkirakan baru memasuki musim hujan pada awal Januari 2027.

BMKG juga mengingatkan potensi asap dari Papua dan Maluku terbawa angin timuran menuju Sultra. Pemantauan titik panas dan sebaran asap terus diperlukan untuk mengantisipasi dampak karhutla.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -