KONAWE, KENDARIKINI.COM – Himpunan Pelajar Mahasiswa Routa (HIPPMAR) mengkritik apresiasi terhadap program beasiswa PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Ketua HIPPMAR, Umar, menilai dukungan sejumlah pihak terlalu prematur dan berpotensi mengaburkan tanggung jawab sosial perusahaan.
Menurutnya, beasiswa merupakan kewajiban perusahaan melalui skema CSR atau PPM, bukan bentuk kebaikan sukarela.
“Kami mempertanyakan dasar apresiasi itu. Ini kewajiban, bukan sesuatu yang perlu disoraki berlebihan,” ujar Umar, Minggu (5/4/2026).
Ia juga menyoroti sikap sebagian mahasiswa yang dinilai terlalu lunak terhadap perusahaan tambang tersebut.
Umar mempertanyakan independensi gerakan mahasiswa jika sejak awal sudah memberikan pujian tanpa kritik.
“Apakah masih berani bersuara jika terjadi pelanggaran lingkungan atau HAM di wilayah tambang,” katanya.
HIPPMAR juga menyoroti transparansi penerima beasiswa yang dinilai belum jelas dan terbuka ke publik.
Menurut Umar, program tersebut harus benar-benar menyasar mahasiswa terdampak di wilayah lingkar tambang Routa.
Ia mengingatkan agar program beasiswa tidak menjadi komoditas politik organisasi tertentu.
Selain itu, HIPPMAR meminta PT SCM membuka data kuota, skema distribusi, dan kesesuaian dengan keuntungan perusahaan.
“Masyarakat berhak mengetahui angka konkret, bukan sekadar seremoni bantuan,” tegasnya.
HIPPMAR menilai masyarakat Routa membutuhkan tanggung jawab nyata atas dampak aktivitas pertambangan.
Mereka menegaskan akan terus mengawal program beasiswa agar tepat sasaran dan tidak tebang pilih.
Prioritas, kata Umar, harus diberikan kepada mahasiswa asal Routa sebagai wilayah terdampak langsung.*










