KENDARIKINI.COM — Universitas Halu Oleo (UHO) memetakan berbagai persoalan internal kampus melalui survei “UHO Mendengar”.
Survei tersebut menjadi bagian rangkaian Dies Natalis UHO ke-45 dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.
Komposisi responden terdiri dari 40 persen dosen, 43,4 persen mahasiswa, dan 16,2 persen tenaga kependidikan.
Prof. Nasrun mengatakan, survei menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menggambarkan kondisi UHO dari perspektif civitas akademika.
Sebanyak 10 aspek diukur, meliputi kebanggaan, kepercayaan, kepemimpinan, budaya organisasi, tata kelola, integritas, dan kolaborasi.
Aspek lainnya mencakup reputasi, dampak, serta rasa memiliki terhadap Universitas Halu Oleo.
“Untuk dosen, tingkat positif terhadap 10 kategori mayoritas sangat setuju. Tenaga kependidikan juga demikian,” kata Nasrun.
Namun, mahasiswa memberikan penilaian yang menunjukkan masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki.
Persoalan fasilitas meliputi ruang kelas tanpa AC, kerusakan AC, keterbatasan proyektor, toilet kurang terawat, dan ketersediaan air bersih.
Laboratorium juga menghadapi keterbatasan peralatan, kualitas fasilitas, serta minimnya tenaga teknisi laboratorium.
Pada layanan kampus, sistem digital dinilai masih terfragmentasi sehingga membutuhkan integrasi melalui sistem satu akun atau single sign-on.
Nasrun menyebut proses birokrasi juga masih banyak dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu relatif panjang.
Administrasi akademik, kepegawaian, jabatan fungsional, dan surat-menyurat menjadi sejumlah layanan yang disoroti.
Survei turut menemukan persoalan kesejahteraan dosen, tenaga kependidikan, serta keamanan kampus, termasuk kehilangan barang dan keterbatasan CCTV.
UHO Mendengar kemudian merumuskan sejumlah prioritas, termasuk pembangunan smart and full campus dan percepatan digitalisasi birokrasi.
UHO juga didorong bertransformasi menuju PTN-BH serta mengembangkan sumber pendapatan melalui pengelolaan unit bisnis profesional.
Selain itu, civitas akademika mendorong kepemimpinan tanpa diskriminasi serta penerapan sistem merit dalam penempatan pejabat.
“Penempatan pejabat dan rekrutmen pegawai harus berdasarkan kompetensi, rekam jejak, dan kapabilitas,” tegas Nasrun.
Hasil survei diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk mengawal pembenahan UHO menuju Dies Natalis ke-50.*













