KENDARIKINI.COM – Pembangunan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) menuai keluhan dari sejumlah petani dan nelayan di Kabupaten Kolaka.
Mereka mengaku menghadapi perubahan kualitas lingkungan sejak pembangunan kawasan industri nikel berlangsung.
Warga menyebut aktivitas pembangunan jetty, smelter, PLTU, dan permukiman pekerja berlangsung secara masif.
Petani Desa Oko-oko, Amran, mengaku sawahnya lebih sering terendam lumpur saat Sungai Oko-oko meluap.
Ia juga menilai kualitas air sungai berubah menjadi keruh, berlumpur, dan berbau sehingga mengganggu pertanian.
Amran mengaku sebagian kebunnya digunakan sebagai jalur hauling sejak 2023 tanpa penyelesaian ganti rugi.
Keluhan serupa disampaikan petani Desa Lamendai yang mengaku kehilangan sumber pendapatan akibat proyek tersebut.
Nelayan Oko-oko dan Hukatutobu juga mengaku hasil tangkapan menurun serta muncul dugaan gangguan kesehatan akibat debu.
Warga berharap pemerintah memperketat pengawasan lingkungan tanpa menghentikan investasi yang sedang berjalan.
DLH Kolaka menyatakan pengawasan rutin dilakukan melalui pengujian kualitas air dan pemantauan sediment pond perusahaan.
Satya Bumi melaporkan dugaan deforestasi serta sedimentasi sawah yang disebut berdampak pada produktivitas pertanian masyarakat.
Hingga berita diterbitkan, General Manager Eksternal PT IPIP, Saefuddin Muslim, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan.*










