Rabu, September 2, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaOpiniOPINI: Antrean Pertalite Mengular, Salah Siapa?

OPINI: Antrean Pertalite Mengular, Salah Siapa?

Oleh: Irpan

Antrean Pertalite mengular, Salah siapa? begitu judul tulisan diatas. Kalau mau “adil sejak dalam pikiran”, meminjam kalimat terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, saya akan menjawab, salah kita semua.

Sudah sekitar sebulan sebenarnya saya ingin menulis soal ini. Bukan karena saya paling tahu, Justru karena saya pernah berada di dua sisi yang berbeda.

Saya pernah menjadi penjual Pertalite eceran. Saya juga pernah menjadi driver ojek online. Keduanya saya jalani sambil kuliah.

Uang dari pekerjaan sambilan itu saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sesekali untuk membeli buku.

Kuliah saya memang mendapat beasiswa Bidikmisi. Tetapi namanya mahasiswa, selalu saja ada kebutuhan yang terasa kurang.

Maka saya paham mengapa orang menjual Pertalite. Saya juga paham mengapa driver online gelisah ketika melihat antrean mengular di SPBU.

Di satu sisi, ada orang yang ingin mencari penghasilan. Di sisi lain, ada orang yang juga sedang mencari penghasilan.

Masalahnya, keduanya bertemu di tempat yang sama, SPBU. Driver online datang membawa motor. Tangki motornya tentu terbatas. Mereka mengantre karena bahan bakar adalah modal kerja.

Motor tidak bergerak, pendapatan berhenti. Sementara itu, para penjual eceran datang dengan tangki rakitan. Sekali mengisi, jumlahnya tentu lebih banyak.

Mereka pun tidak sedang bermain-main. Ada modal yang harus diputar. Ada keluarga yang harus diberi makan.

Jadi, siapa yang salah? Kalau kita menunjuk penjual eceran, persoalannya tidak selesai. Kalau kita menyalahkan driver online, jelas semakin tidak adil.

Kalau kita menyalahkan petugas SPBU, belum tentu juga tepat. Dan kalau semuanya dilempar kepada pemerintah, mungkin kita sedang mencari jawaban yang paling mudah.

Padahal persoalannya lebih panjang daripada antreannya. Pertalite adalah barang bersubsidi. Artinya, negara ikut membayar sebagian harganya.

Karena itu, ketika barang bersubsidi diperebutkan dalam jumlah besar, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal siapa yang mengantre.

Tetapi siapa yang paling berhak mendapatkannya. Di sinilah negara harus hadir, Bukan sekadar mengatur antrean dan Bukan hanya memasang pembatas. Tetapi memastikan subsidi benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Driver online membutuhkan BBM untuk bekerja, Nelayan membutuhkan BBM untuk melaut, Petani membutuhkan BBM untuk menggerakkan mesin. Dan masyarakat kecil membutuhkan BBM untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.

Tetapi ketika subsidi terlalu mudah diakses oleh siapa saja, selalu ada celah untuk dimanfaatkan.

Dan manusia memang pandai mencari celah, Termasuk saya dulu. Saya pernah ikut mengambil keuntungan dari celah itu dengan menjual Pertalite eceran.

Saya tidak ingin menghakimi diri sendiri hari ini. Saat itu saya hanya mahasiswa yang membutuhkan uang tambahan.

Tetapi kalau boleh disebut sebagai bentuk penebusan dosa atas masa lalu itu, hari ini saya berusaha konsisten menggunakan Pertamax.

BBM yang tidak disubsidi, Bukan berarti saya merasa sudah paling benar. Bukan pula karena ingin terlihat lebih baik daripada orang lain.

Saya hanya merasa, setelah pernah berada di sisi yang mengambil manfaat dari subsidi, setidaknya sekarang saya bisa memilih untuk tidak mengambilnya.

Mungkin kecil, Bahkan sangat kecil. Tetapi perubahan memang kadang dimulai dari keputusan yang kecil.

Saya tidak sedang mengatakan semua orang harus mengikuti pilihan saya. Kemampuan ekonomi setiap orang berbeda, Kebutuhan setiap keluarga berbeda.

Karena itu, saya tetap percaya subsidi harus ada untuk mereka yang memang membutuhkan. Yang perlu diperbaiki adalah bagaimana subsidi itu diberikan.

Sebab jangan sampai orang kecil justru dipaksa berebut dengan orang kecil lainnya. Driver online berebut dengan pengecer, Pengecer berebut dengan pengguna kendaraan pribadi.

Semua sama-sama berdiri di bawah matahari, Sama-sama menungu, Sama-sama membutuhkan dan yang berbeda hanya kepentingannya.

Karena itu, perdebatan tentang antrean Pertalite jangan berhenti pada pertanyaan: “Salah siapa?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa kita membiarkan orang-orang yang sama-sama sedang berjuang mencari nafkah harus saling berhadapan?”.

Pemerintah perlu membenahi distribusi. SPBU perlu memperketat pengawasan tanpa mempersulit masyarakat. Data penerima subsidi harus semakin akurat. Dan kita sebagai pengguna juga perlu jujur. Sebab subsidi adalah uang negara.

Uang negara adalah uang rakyat, Termasuk uang kita sendiri. Jadi, kalau hari ini antrean Pertalite mengular, jangan buru-buru menunjuk orang lain.

Bisa jadi kita semua memang punya bagian dalam persoalan itu. Dan mungkin, penyelesaiannya juga harus dimulai dari kita semua.

Saya sendiri sudah memilih jalannya, Pertamax. Bukan karena saya sudah suci dari kesalahan. Justru karena saya tahu, saya pernah berada di sisi yang berbeda. Mungkin ini belum cukup untuk menebus masa lalu, Tetapi setidaknya, saya sedang mencoba.

Keterangan tambahan foto hanya pemanis, jangan terlalu lama ditatap sudah punya istri laki-laki ini dan sudah punya anak satu. Dia hanya pura-pura berani sama istrinya kalau didepan kawan tongkrongannya, Dirumah dia kaya kucing anggora.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -