KENDARIKINI.COM – Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PERUMDAM) Tirta Anoa Kota Kendari, Sukriyaman, mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan yang dipimpinnya saat ini mencapai sekitar Rp1,8 miliar per bulan. Namun, pendapatan tersebut belum mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Kendari karena masih habis untuk membiayai operasional.
Sukriyaman menjelaskan, total pengeluaran rutin perusahaan setiap bulan mencapai Rp1,569 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan dasar operasional.
“Pendapatan kami Rp1,8 miliar per bulan, sementara pengeluaran rutin tanpa kegiatan tambahan mencapai Rp1,569 miliar per bulan,” kata Sukriyaman saat ditemui jurnalis Kendarikini.com di ruang kerjanya, Senin (2/2/2026).
Ia merinci, pengeluaran rutin tersebut meliputi gaji karyawan sekitar Rp800 juta per bulan, biaya listrik mencapai Rp500 juta, serta kebutuhan bahan kimia pengolahan air seperti tawas dan obat-obatan lainnya sekitar Rp200 juta.
“Selebihnya digunakan untuk penanganan pipa bocor, penggantian meter air, dan biaya operasional lainnya,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Sukriyaman menyebut PERUMDAM Tirta Anoa masih berada dalam posisi keuangan yang belum surplus, sehingga belum memungkinkan untuk menyetorkan pendapatan ke PAD Kota Kendari.
“Kami masih terjepit dan belum surplus, sehingga belum bisa menyetor ke PAD,” ujarnya.
Menurutnya, PERUMDAM Tirta Anoa baru dapat memberikan kontribusi terhadap PAD Kota Kendari apabila jumlah pelanggan rumah tangga mencapai 30.000 sambungan aktif, disertai dengan peningkatan performa mesin produksi serta normalisasi jaringan pipa.
“Jika pelanggan bisa mencapai 30.000, performa mesin ditingkatkan, dan pipa-pipa dinormalkan, kami optimistis bisa menyetor PAD hingga Rp24 miliar,” jelasnya.
Namun demikian, Sukriyaman menegaskan target tersebut hanya dapat tercapai apabila mendapat dukungan penuh dari seluruh instansi terkait.
Berdasarkan data Dasbor PERUMDAM Tirta Anoa Kota Kendari, dari total 23.406 pelanggan pada periode Januari hingga Februari 2026, tercatat sebanyak 11.919 pelanggan atau 50,9 persen mengalami pemutusan layanan. Sementara pelanggan aktif tersisa 11.487 sambungan atau sekitar 49,1 persen dari total pelanggan.(Faldi)*










