KENDARIKINI.COM – Rencana pembangunan pabrik aspal Buton di Karawang menuai penolakan dari MBM Sultra.
Ketua MBM Sultra, Asar Buton, menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan konsep hilirisasi nasional.
“Hilirisasi harus dekat sumber bahan baku, bukan memindahkan ke daerah lain,” tegasnya, Minggu (3/5/2026).
Ia menyebut kebijakan itu memperkuat ketimpangan pembangunan antara wilayah Timur dan Barat Indonesia.
Menurutnya, Pulau Buton memiliki cadangan aspal alam besar namun belum memberi dampak ekonomi maksimal.
Pembangunan di Karawang dinilai hanya mengulang pola lama ketimpangan industri nasional.
“Daerah jadi pemasok mentah, sementara keuntungan terpusat di Jawa,” ujarnya.
MBM Sultra juga menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan semangat pemerataan pembangunan.
Selain itu, dianggap tidak sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945.
Asar mengkritik alasan pemerintah terkait kesiapan logistik dan kedekatan pasar di Karawang.
Menurutnya, alasan itu menunjukkan lemahnya pembangunan infrastruktur di luar Jawa.
“Negara seharusnya membangun fasilitas industri di Buton, bukan memindahkan ke Jawa,” katanya.
MBM Sultra mengajukan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat.
Pertama, membatalkan pembangunan pabrik di Karawang dan memindahkannya ke Buton.
Kedua, membangun industri aspal terintegrasi dengan melibatkan masyarakat lokal.
Ketiga, memastikan transfer teknologi bagi daerah penghasil sumber daya.
Keempat, melakukan kajian ulang dengan melibatkan masyarakat dan akademisi.
MBM Sultra berharap kebijakan hilirisasi benar-benar berpihak pada daerah penghasil.
“Rakyat Buton butuh industri nyata, bukan sekadar janji,” tutup Asar.*










