KENDARIKINI.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pengawasan pasar modal melalui sistem pemantauan real-time.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pembukaan Capital Market Summit and Expo (CMSE) 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Mengusung tema “Satu Langkah Investasi Berjuta Peluang Masa Depan”, kegiatan tahunan ini berlangsung hingga 7 November 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif. Nilai transaksi harian meningkat 10 persen, sedangkan jumlah investor tumbuh lebih dari 50 persen.
Namun, ia mengakui kredibilitas dan tata kelola pasar modal masih menghadapi sejumlah tantangan.
Karena itu, BEI memperkuat tiga aspek utama, yakni transparansi, likuiditas, dan efektivitas pengawasan.
BEI juga telah membuka informasi kepemilikan saham di atas 1 persen serta menyediakan data investor lebih terperinci.
“Kami saat ini akan melakukan pengawasan dengan real-time plugin bila kami menemukan adanya indikasi pelanggaran dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia,” ujar Jeffrey.
Sementara itu, Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap, menegaskan pentingnya sinergi regulator.
Ia menyebut penguatan tata kelola diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memperluas partisipasi masyarakat.
Eddy mengungkapkan, sepanjang 2026 OJK telah menjatuhkan sanksi kepada 959 pihak dengan total denda mencapai Rp2,56 triliun.
“Kami juga tegaskan bahwa tidak ada lagi ruang manipulatif di pasar modal Indonesia,” tegasnya.
Melalui langkah tersebut, BEI dan OJK berkomitmen menciptakan pasar modal yang transparan, kredibel, dan melindungi kepentingan investor.*














