KENDARIKINI.COM, KENDARI – Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Mannan di Kota Kendari dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga akibat keracunan makanan. Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Kendari AKP Welliwanto Malau melalui Kanit Tipidter Satreskrim Polresta Kendari, Ipda Ariel Mogens Ginting, mengatakan berdasarkan hasil pengecekan awal di lapangan, total korban yang telah mendapatkan penanganan medis sementara berjumlah 36 orang.
“Korban tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, yakni 10 orang dirawat di Puskesmas Puwatu, 9 orang di RS Antero Hamra, 9 orang di RS Bhayangkara Kendari, dan 8 orang di Rumah Sakit Kota Kendari,” ujar Ipda Ariel saat dikonfirmasi pada Minggu, 11 Januari 2026.
Ipda Ariel menjelaskan, keluhan yang dialami para korban umumnya berupa demam, mual, muntah, pusing, serta lemas. Berdasarkan keterangan petugas medis dan para korban, sebagian santri mulai merasakan gejala sejak waktu subuh, kemudian muncul kembali secara hampir bersamaan pada pagi hingga sore hari.
Dari hasil pendalaman sementara, beberapa korban mengaku tidak mengonsumsi makanan pada pagi atau siang hari. Namun demikian, mereka tetap mengalami gejala serupa. Para korban menyampaikan bahwa makanan terakhir yang dikonsumsi berasal dari dapur pesantren pada malam hari sebelumnya, dengan menu ayam, mi, dan nasi.
“Berdasarkan pola waktu munculnya gejala dan kesamaan jenis makanan yang dikonsumsi, sementara ini diduga gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi bersama pada malam hari sebelumnya, dengan masa inkubasi tertentu,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak kepolisian menduga adanya potensi pelanggaran standar keamanan pangan dalam proses pengolahan makanan. Dugaan tersebut mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096 Tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga.
“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini serta pihak yang bertanggung jawab. Saat ini fokus utama adalah penanganan korban dan pengumpulan keterangan,” tegas Ipda Ariel.
Pihak kepolisian mengimbau agar seluruh pihak tetap tenang dan menunggu hasil resmi penyelidikan, sembari memastikan para korban mendapatkan penanganan medis yang optimal.*










