KENDARIKINI.COM – Petani di Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, mengeluhkan mahalnya harga Biosolar bersubsidi.
Menjelang musim tanam kedua 2026, petani kesulitan memperoleh solar subsidi sesuai harga pemerintah.
Harga Biosolar subsidi di SPBU masih Rp6.800 per liter.
Namun, di tingkat pengecer, harga mencapai Rp500 ribu per jeriken berisi 35 liter.
Jika dihitung, harga tersebut setara sekitar Rp14.285 per liter.
Kondisi ini membebani petani yang membutuhkan bahan bakar untuk mengoperasikan alat pertanian.
Biosolar digunakan untuk combine harvester dan hand tractor saat pengolahan lahan sawah.
Seorang petani Wonggeduku mengaku persoalan utama bukan harga di SPBU.
Menurutnya, harga melonjak setelah bahan bakar berpindah ke tangan pengecer.
“Mereka membeli dengan harga subsidi, lalu menjual lebih dari dua kali lipat,” katanya.
Petani menyebut akses langsung terhadap solar subsidi masih sangat terbatas.
Pembelian menggunakan jeriken dibatasi dan distribusi mengutamakan kendaraan yang terdaftar.
Akibatnya, petani terpaksa membeli dari pihak yang memiliki akses pasokan dari SPBU.
Rantai distribusi tersebut dinilai menjadi penyebab tingginya harga di lapangan.
Selain pupuk dan tenaga kerja, biaya bahan bakar kini menjadi beban tambahan petani.
Mereka khawatir keuntungan semakin menurun karena harga gabah tidak selalu stabil.
Petani berharap pemerintah daerah dan instansi terkait memperbaiki mekanisme distribusi BBM bersubsidi.
Mereka meminta kelompok tani diberikan akses lebih mudah terhadap Biosolar subsidi.
Petani menilai subsidi seharusnya dinikmati pengguna utama, bukan pihak perantara.*










