Selasa, Juni 9, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBeritaRiset 3 Tahun Ungkap Biodiversitas Pulau Wawonii Tetap Stabil, 16 Spesies Burung...

Riset 3 Tahun Ungkap Biodiversitas Pulau Wawonii Tetap Stabil, 16 Spesies Burung Endemik Jadi Catatan Baru

WAWONII, KENDARIKINI.COM – Hasil riset ilmiah selama tiga tahun terakhir mengungkap kondisi biodiversitas Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, berada dalam kondisi stabil dengan sejumlah temuan baru, termasuk 16 spesies burung endemik yang sebelumnya belum pernah tercatat di pulau tersebut.

Pemantauan biodiversitas darat dan laut itu dipimpin Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru, sejak 2023 hingga 2025, khususnya di wilayah Wawonii Tenggara.

Prof. Danu mengatakan, secara ekologis Wawonii merupakan pulau kecil yang memiliki karakter unik karena dalam satu bentang wilayah terdapat ekosistem mangrove, hutan dataran rendah hingga hutan ultramafik yang kaya mineral.

“Dalam satu kawasan kita menjumpai kombinasi ekosistem yang jarang ditemukan di pulau kecil lain. Ini menjadikan Wawonii penting untuk dikaji secara ilmiah,” ujarnya.

16 Catatan Baru Burung Endemik

Hasil analisis menunjukkan indeks keanekaragaman, kekayaan jenis dan pemerataan spesies berada dalam kondisi stabil, bahkan meningkat di beberapa titik pengamatan.

Pada kelompok burung, tim mencatat 27 jenis burung endemik Sulawesi. Sebanyak 16 jenis di antaranya merupakan catatan baru (new record) yang belum pernah dilaporkan sebelumnya di Pulau Wawonii.

Sementara pada kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga menjadi temuan baru dibandingkan data penelitian terakhir hingga 2015 yang terdokumentasi dalam publikasi LIPI.

Dari kelompok flora, peneliti menemukan sejumlah tumbuhan endemik dan spesies yang masuk kategori terancam.

“Temuan ini menunjukkan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi. Pemantauan jangka panjang penting untuk melengkapi basis data ilmiah yang masih terbatas,” jelasnya.

Kualitas Lingkungan di Bawah Ambang Baku Mutu

Selain inventarisasi hayati, tim juga melakukan uji kualitas air sungai, air laut, sedimen, serta kandungan logam berat pada biota ikan.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan seluruh parameter berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional maupun standar internasional.

“Dalam periode dan lokasi pemantauan ini, kami tidak menemukan indikasi pencemaran yang signifikan. Namun pemantauan berkala tetap diperlukan untuk melihat dinamika jangka panjang,” kata Prof. Danu.

Data Jadi Dasar Reklamasi Tambang

Prof. Danu menyebut keberlanjutan riset ini berjalan melalui kolaborasi dengan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Data biodiversitas yang dihimpun menjadi dasar dalam kegiatan reklamasi lahan pasca-tambang. Dari sekitar 114 jenis tumbuhan teridentifikasi, jenis-jenis tertentu dipilih sesuai karakter lahan, termasuk tanaman pionir dan tanaman penghasil buah untuk mempercepat kembalinya fauna.

“Reklamasi adalah kewajiban. Yang terpenting adalah bagaimana dilakukan berbasis data dan mempertimbangkan jenis lokal, termasuk peluang integrasi spesies endemik dan terancam,” ujarnya.

Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, mengatakan hasil pemantauan menjadi rujukan dalam memperbaiki praktik pengelolaan lingkungan perusahaan.

“Jenis tanaman yang digunakan dalam reklamasi kini semakin beragam. Persemaian juga telah disiapkan untuk mendukung program jangka panjang,” katanya.

Tekankan Keseimbangan Ekologi Pulau Kecil

Menurut Prof. Danu, tantangan utama Pulau Wawonii sebagai pulau kecil adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Ia menegaskan keberlanjutan ekosistem tidak hanya ditentukan oleh satu jenis aktivitas, melainkan berbagai faktor termasuk perubahan penggunaan lahan oleh masyarakat.

“Kuncinya ada pada kesadaran kolektif dan peran generasi muda Wawonii untuk menjaga pulau ini tetap lestari,” ujarnya.

Sejumlah warga pesisir Wawonii Tenggara juga mengakui adanya perubahan positif dalam praktik pemanfaatan laut, termasuk berkurangnya penggunaan bom ikan.

“Sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang pakai bom ikan. Ada pengawasan dan sosialisasi, jadi kami lebih paham pentingnya menjaga laut,” ujar Hasanudin, warga Desa Dompo-Dompo Jaya.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -