KENDARIKINI.COM – Ancaman terorisme modern dinilai berubah cepat melalui ruang digital dan algoritma media sosial.
Hal itu mengemuka dalam Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” di Jakarta.
Kegiatan tersebut menjadi bagian Rakernis Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026.
Acara dihadiri Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo, Kepala BNPT Eddy Hartono, dan Kadensus 88 Sentot Prasetyo.
Wakapolri menegaskan ancaman kini tidak lagi bergerak melalui organisasi formal seperti pola lama.
“Pencegahan sosial harus hadir lebih awal sebelum ancaman berkembang,” ujar Komjen Dedi Prasetyo, Rabu 20 Mei 2026.
Menurutnya, mitigasi ekstremisme harus memperkuat literasi digital, perlindungan anak, dan deteksi dini masyarakat.
Kepala BNPT Eddy Hartono menilai terorisme modern membutuhkan sinergi lintas sektor dan kolaborasi nasional.
Ia menyebut ancaman ekstremisme kini bergerak lintas ruang, lintas generasi, dan lintas platform digital.
Kadensus 88 Irjen Sentot Prasetyo mengatakan pola ekstremisme kini lebih personal dan sulit terdeteksi.
Karena itu, Densus 88 memperkuat pendekatan pencegahan, asesmen risiko, dan perlindungan kelompok rentan.
Psikolog forensik Zora Arfina Sukabdi menyoroti radikalisasi digital dapat terjadi lebih cepat dibanding teori klasik.
Guru Besar hukum pidana Harkristuti Harkrisnowo menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti dan hak asasi manusia.
Psikolog Adityana Kasandra Putranto menilai luka psikologis dapat menjadi pintu masuk radikalisasi digital.
Sementara Ismail Fahmi mendorong penggunaan kecerdasan buatan untuk deteksi dini ancaman ekstremisme digital.
Rakernis Densus 88 2026 memperkuat strategi penanggulangan terorisme berbasis ilmu pengetahuan dan pendekatan preventif.*










