KENDARIKINI.COM – PT Vale Indonesia Tbk mulai mengeksplorasi tambang nikel sejak 1920-an. Namun perseroan baru mendirikan entitas yang bernama PT International Nickel Indonesia (INCO) pada 25 Juli 1968. Saat diresmikan, terjadi kesepakatan antara perusahaan dengan Pemerintah Indonesia melalui Kontrak Karya (KK).
Sejak penandatangan KK, PT INCO berkomitmen untuk mengoperasikan pertambangan nikel terintegrasi. Sebelum perintah hilirisasi mineral oleh pemerintah, perusahaan telah menjalankan pabrik di Sorowako pada 1977. Peresmian pabrik itu dihadiri presiden kedua Republik Indonesia (RI), yaitu Soeharto.
Konsensi Vale menyebar di Sorowako (Sulawesi Selatan) seluas 70.566 hektar, Bahodopi Morowali (Sulawesi Tengah) sebesar 22.699 hektar dan Pomala seluas 24.752 hektar. Secara keseluruhan luas konsensi Vale mencapai 118.000 hektar.
Sejak tahun 1970-an, perusahaan ini sudah mulai membangun pabrik smelter feronikel dengan kapasitas sebesar 67.000 matrik ton sampai 72.000 metrik ton per tahun. Kapasitas pabrik smelter Vale itu jauh lebih besar daripada pabrik smelter feronikel perusahaan milik negara, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Pomala sebesar 27.000 metrik ton yang sudah dibangun tahun 1973.*










