KENDARIKINI.COM – Puluhan mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari berbagai daerah di Indonesia menjelajahi kawasan Karst Matarombeo di Desa Bendewuta, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke-35 Mapala se-Indonesia yang berlangsung pada 22–28 Oktober 2026.
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pengenalan medan tebing atau rock climbing. Para peserta berkesempatan mengenal karakteristik bentang alam karst yang memiliki formasi batuan kapur dan kondisi geografis khas.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman lapangan mahasiswa pecinta alam, khususnya dalam memahami karakter medan, teknik kegiatan alam bebas, serta pentingnya keselamatan selama melakukan eksplorasi.
Pimpinan operasi, Veki, terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sementara itu, Ketua Umum Mahacala Universitas Halu Oleo (UHO), Ika Amalia, menjadi salah satu narasumber terkait kegiatan tersebut.
“Karst Matarombeo merupakan gugusan pegunungan batu kapur purba yang terletak di pedalaman Kabupaten Konawe Utara. Kawasan ini memiliki bentang alam karst yang unik dan menjadi salah satu daya tarik alam di Sulawesi Tenggara,” katanya usai melepas peserta kenal medan rock climbing, Jum’at 23 Oktober 2026.
Sambungnya, Secara geografis, kawasan Karst Matarombeo diperkirakan membentang sekitar 1.200 kilometer persegi. Bentang alam karst di Sulawesi Tenggara juga mencakup kawasan lain, seperti Tangkelemboke, Sombori, dan Mekongga, dengan total luasan yang disebut mencapai sekitar 6.000 kilometer persegi.
“Puncak tertinggi kawasan Matarombeo disebut mencapai ketinggian 1.535 meter di atas permukaan laut (mdpl),” tambahnya.
Lanjutnya, Karakteristik batuan kapur, kontur tebing, serta kondisi medan yang beragam menjadikan pengenalan lapangan sebagai bagian penting dalam kegiatan alam bebas. Dalam aktivitas rock climbing, pemahaman terhadap kondisi tebing, penggunaan peralatan keselamatan, teknik pemanjatan, dan manajemen risiko menjadi hal yang perlu diperhatikan.
“Melalui rangkaian TWKM ke-35 Mapala se-Indonesia, kegiatan pengenalan medan ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperluas wawasan, bertukar pengalaman, serta memperkuat jejaring antarmahasiswa pecinta alam dari berbagai daerah,” ungkapnya.
Selain aspek petualangan, kegiatan di kawasan karst juga perlu memperhatikan kelestarian lingkungan. Ekosistem karst memiliki karakteristik khusus sehingga eksplorasi harus dilakukan secara bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan bentang alam dan habitat di sekitarnya.
“TWKM ke-35 Mapala se-Indonesia yang berlangsung pada 22–28 Oktober 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa pecinta alam untuk memperkuat kapasitas organisasi, meningkatkan pengetahuan lapangan, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan di alam terbuka,” pungkasnya.*













