KENDARIKINI.COM – Pada hari Rabu tanggal 9 Oktober 2024, Masse adalah guru piket pada hari itu. Ia tiba di sekolah sekira jam 06.30 WITA pagi.
“Saat itu saya langsung ke kelas 1 membuka pintu kelas lalu meletakkan tas karena saya adalah wali kelas 1. Kemudian saya keluar menuju kelas 2, 3, dan 4 yang letaknya berurutan untuk mengecek kebersihan kelas seraya mengarahkan siswa bahwa yang bertugas di kelas agar membersihkan kelasnya dan yang tidak bertugas agar keluar untuk membersihkan halaman yaitu memungut sampah dan membuang sampah yang ada di tong sampah,” jelasnya.
Sambungnya Karena hal ini sudah menjadi budaya di sekolah kami sebelum apel pagi dimulai.
“Selanjutnya saya menuju ke kantor untuk menyapu dan beberes ruangan kantor, namun di depan kantor ada sebuah tong sampah yang isinya sudah hampir penuh, saya meminta kepada siswa yang kebetulan sedang berdiri di dekat tong sampah tersebut untuk membuangnya,” tambahnya.
Lanjutnya Lalu ia lanjut masuk di kantor untuk membersihkan kantor. Setelah selesai beberes ruang kantor saya kemudian keluar untuk persiapan apel pagi karena jam sudah menunjukkan pukul 06.50 WITA.
“Sekalian mau mengecek kelas 5 dan kelas 6 yang letaknya bersebelahan dengan ruang kantor. Sesampai di pintu kantor saya melihat tong sampah tersebut belum dibuang isinya. Saya lalu berkata, “ waduh…kok ini sampah belum dibuang, sambil menepuk jidat saya bertanya, “ Siapa yah tadi yang saya suruh buang sampah ini?”. Ada salah satu siswa yang menjawab, “Yang ini, bu”! Siswa yang dimaksud langsung lari di kelasnya (kelas 5),” jelasnya.
Pihaknya juga menuturkan bahwa karena niatnya memang mau mengecek kelas 5 dan 6, di pintu kelas 5 saya berdiri kebetulan ada beberapa anak yang ada di dalam.
“Jadi saya bilang, “ Ayo nak yang bertugas di kelas silakan bertugas dan yang tidak agar ke halaman. Kemudian saya memanggil siswa (korban) yang sedang berdiri depan papan tulis dengan berkata, “Sini nak ayo sini, anak tersebut menghampiri saya lalu saya bertanya, “ Kenapa sampahnya tidak dibuang, nak?” Dia menjawab,”Saya tidak bisa bu, hanya sendiriku!” Saya berkata lagi,”Masa sih hanya sendirian, itu banyaknya teman yang bisa dipanggil,” bebernya.
Kemudian saat ia mau pegang tangannya (kiri) untuk saya arahkan kembali membuang sampah tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya sambil mencarikan teman supaya ada temannya karena alasannya tadi tidak bisa karena hanya sendirian.
“Namun diluar dugaan, dia melakukan perlawanan dengan menghempaskan tangan saya dengan wajah geram menahan emosi (seperti orang yang mau melawan) saya pun kaget dan terpancing emosi dan langsung pegang kedua tangannya kemudian saya tanya, “Kamu mau lawan sayakah? Kamu mau lawan sayakah? Siswa tersebut tampak semakin emosi, refleks saya terpancing emosi mau memukul pangkal lengannya tapi dia menghindar dengan kepala agak menunduk akhirnya kena bagian pipinya,” jelasnya lagi.
Ia pun sempat kaget karena salah sasaran, sambil menyapu dada. Tak lama kemudian dia lari keluar di halaman sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya dan berkata.
“Awasko saya laporko di bapakku, awasko saya laporko dibapakku.” Jadi saya balik bertanya, “Kenapa mau lapor saya di Bapakmu, Siapakah Bapakmu. Bukankah orang tuamu di sekolah adalah guru, kenapa mesti mau laporkan guru di Bapakmu. Kalau begitu berarti kau tidak anggap gurumu sebagai orang tuamu di sekolah,” katanya.
Seraya Ia berjalan menuju gerbang sekolah menuju rumah tantenya yang letaknya + 30 meter dari sekolah.
“Di sanalah dia mengadukan saya bahwa saya gappo kepalanya (dalam bahasa bugis: diberturkan kepalanya) di tembok baru saya pukul kepalanya dan saya kata-katai dia bahwa saya memandang remeh bapaknya karena saya berkata siapakah bapakmu karena dia hanya melaporkan penggalan kalimat di atas terpisah dari rangkaian kalimat yang lainnya, menurut teman-temannya yang mengantarnya pulang katanya aduan tersebut divideo dan video itulah yang dikirim ke orang tuanya,” bebernya lagi.
Lanjutnya Ia pun melanjutkan tugas saya karena jam sudah menujukkan pukul 07.00 waktunya apel pagi. Belum sempat saya memberikan arahan karena harus mengatur barisan masing-masing kelas terlebih dahulu, orang tua bersama siswa tersebut sudah tiba di sekolah.
“Jadi saya hanya memberi isyarat mempersilakan masuk di kantor karena saya masih menerima apel pagi. Saat itu di kantor belum ada seorang guru pun, ada wali kelas 5 yang sudah datang tapi sementara sarapan di kantin sekolah. Bertanyalah Bapak kepada anaknya tentang siapa pelakunya, si anak menunjuk saya sebagai pelakunya,” jelasnya lagi.
Lanjutnya pada saat itu spontan Bapaknya keluar di teras sambil berteriak dengan suara marah.
“Sini Bu…! cepat sini…! Saya pu menjawab dengan tenang, sabar pak saya selesaikan dulu apel ini, dia teriak lagi tidak boleh…sekarang…sini…! Seluruh siswa yang sedang mengikuti apel pun menjadi kaget dengan suara keras tersebut, sehingga saya tidak jadi memberi pengarahan kepada siswa karena situasi sudah genting. Saya hanya sempat berpesan kepada seluruh siswa bahwa silakan anak-anak masuk kelas tolong cek kembali kelasnya kalau masih kotor tolong dibersihkan dan kalau sudah bersih silakan masuk kelas tidak usah berkeliaran karena saya ada urusan dengan orang tua siswa, lanjut saya bubarkan,” lanjutnya.
Kemudian pihaknya meminta seorang siswa untuk memanggil wali kelas 5 bahwa ada orang tua siswa di kantor.
“Selanjutnya saya mempersilakan orang tua siswa tersebut yang sementara emosi dan marah untuk duduk dan saya pun duduk disebelahnya yang diantarai oleh sebuah meja kecil, sedang anaknya berdiri disamping Bapaknya. Sambil menuju ke tempat duduk yang saya arahkan dia berkata, “Saya tidak terima ibu membenturkan kepala anak saya di tembok dan memukul kepalanya lalu saya jawab, maaf pak bukan kepalanya yang saya pukul tapi pipinya itu pun sasaran saya pangkal lengannya tapi dia menghindar maka kenalah pipinya. Dia pun menjawab lagi, “bukankah itu kepala!, saya jawab lagi, “setahu saya bukan pak, kalau kepala bagain ini sambil menujukkan bagian kepala saya, kalau ini wajah sambil menunjuk pipi saya.”
Dia jawab lagi apa pun alasan ibu, saya tidak terima anakku dipukul kepalanya. Ia pun meminta waktu untuk menceritakan kronologinya tapi si orang tua menjawab.
“Tidak usah, tidak perlu.” Beberapa kali saya bermohon untuk diberi waktu berbicara tapi tetap tidak diberi waktu. Terakhir saya bermohon lagi meminta 2 menit saja untuk klarifikasi namun tetap saja ucapnya tidak usah…tidak perlu. Malah dia hanya bilang kalau sudah begini baru cari pembenaran.
Singkat cerita, saat Si orang tua tersebut meronta-ronta ingin memukul dan menginjak saya dan tetap memfitnah bahwa saya benturkan kepalanya di tembok bahkan dia bilang tidak…! ibu benturkan kepalanya anakku ditembok baru pukul kepalanya ada saksinya, ditanyalah si Anak, “siapa saksinya.”
Saat itu si Anak menjawab, “Ali” maka guru meminta tolong kepada siswa kelas 5 yang sedang menonton di pintu untuk memanggil si Ali. Setelah Ali datang langsung dikonfirmasi tentang kebenaran atas tuduhan tersebut tetapi saksi tersebut langsung membantah bahwa tidak dibenturkan kepalanya dan yang dipukul bukan kepalanya dan kesaksian tersebut didengar langsung oleh orang tua dan anaknya bersama semua guru dan kepala sekolah yang kebetulan saat itu sudah ada di TKP karena memang jam pertama pelajaran sudah hampir dimulai.
Setelah orang tuanya pulang, si Anak tetap tinggal belajar sampai jam pelajaran berakhir, kami pun semua guru bersama kepala sekolah langsung mengadakan rapat pada hari itu juga untuk menentukan sikap atas kejadian yang baru saja terjadi.
“Alhasil, setelah melalui berbagai tahapan evaluasi dan pertimbangan yang matang , sehubungan dengan pelanggaran berat terhadap peraturan dan tata tertib sekolah maka, rapat memutuskan untuk mengeluarkan siswa tersebut (menyerahkan kembali siswa tersebut kepada orang tuanya) demi untuk menjaga ketertiban dan keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah ini,” katanya.
“Dan selanjutnya orang tuanya dapat mengambil langkah untuk mencari sekolah alternatif bagi anaknya tersebut. Namun sebelum surat keputusan tersebut disampaikan kepada orang tua yang bersangkutan saat itu pihak sekolah masih menunggu dan membuka kesempatan untuk orang tua siswa tesebut selama 3 (tiga) hari ke depan terhitung mulai tanggal 9 Oktober-11 Oktober 2024 mana kala ada itikat baiknya untuk datang memperbaiki situasi yang telah terjadi setelah merasa tenang. Namun sampai tanggal 14 Oktober 2024 tidak kunjung tiba, sehingga surat keputusan tersebut disampaikan pada hari Senin, 14 Oktober 2024 sekira jam 9 yang diantar langsung oleh salah seorang guru yaitu Pak Badeaming,” jelasnya.
Lanjutnya dan diterima langsung oleh yang bersangkutan (Bapaknya). Tidak sampai 1 jam kemudian sekira jam 10 datanglah orang tua tersebut memberi salam dan langsung masuk dengan posisi berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah sambil berkata, “Buatkan surat pindah Rafa, buatkan surat pindah Rafa tapi kita berurusan di Polres.” Yang kebetulan saat itu kepala sekolah tidak ada di tempat karena sedang ikut kegiatan di Gedung Tanduale Kantor Bupati Bombana dan saat itu sedang ada tamu (orang tua siswa) a.n. Azril yang juga sedang klarifikasi masalah anaknya.
Seorang guru yang sedang menerima tamu tersebut (Hj. Mashari, S.Pd.) langsung berkata bahwa Maaf nati besok ya karena KS tidak ada di tempat, kemudian melanjutkan pertanyaannya bahwa di sekolah mana yang kita tuju, beliau menjawab SDN 28 Lauru, Bu Hj berkata lagi tolong pale kita minta rekomendasi dari sekolah itu bahwa sekolah tersebut siap menerima untuk menjadi dasar siswa tersebut di buatkan surat pindahnya.
Beliau menjawab lagi, “Sudah…saya dari sana ini.” Bu Hj berkata lagi tetap harus ada dokumennya, beliau langsung menelpon seseorang yang mungkin itu adalah KSnya. Dari percakapannya nampak hal tersebut langsung diiyakan.
Selanjutnya beliau langsung pamit dengan ucapan terakhir bahwa, “Saya akan lapor di Polres, sembari berlalu keluar ruangan. Tak lama kemudian ada rekan guru yang memperlihatkan WA dari ortu yang bersangkutan yang isinya adalah dokumen rekomendasi yang dimaksud tadi. Saat itu juga surat pindah langsung dibuatkan dengan nomor: 421.2/116/2024 yang ditujukan kepada SDN 28 Kampung Baru sesuai isi surat rekomendasi tersebut. Esok harinya baru yang bersangkutan datang mengambil surat pindah tersebut.
Hari Selasa sore tanggal 15 Oktober 2024 sekira jam 4 datanglah dua orang yang mengaku polisi dari Polres Bombana mengantar surat dengan Nomor : B/448/X/RES.1.24/2024/Reskrim, Perihal: undangan Klarifikasi, dimana surat tersebut meminta saya untuk hadir pada Kamis, 17 Oktober 2024 sesuai isi surat tersebut dan saya pun menyanggupinya. Setelah kehadiran saya sesuai jadwal yang telah ditetapkan dengan meminta 16 poin pertanyaan kalau tidak salah ingat dan disuruh tanda tangan akhirnya saya disuruh pulang dengan pesan nanti dipanggil lagi. Dan sampai saat cerita ini saya buat belum ada panggilan dan saya masih menunggu panggilan berikutnya.*










