Oleh: Fajreen Ben Sattar
Pada pertengahan 2014, setelah sekitar sepuluh tahun hidup di Malang, saya kembali ke Kendari. Ada satu pemandangan yang terus-menerus menempel dalam ingatan saya sejak masa itu hingga konflik AS-Isr43l vs Iran dalam 2 tahun terakhir ini:
Di sekitar kawasan Baruga pada waktu itu, terutama di sekitaran Hotel Srikandi, puluhan orang asing tampak lalu-lalang hampir setiap hari.
Wajah-wajah Timur Tengah, kebanyakan laki-laki dewasa, sesekali perempuan, berjalan kaki di tepi jalan raya besar. Gestur mereka tampak seperti sedang menunggu sesuatu, tetapi entah apa.
Semakin lama saya memikirkan pemandangan itu, semakin jelas bahwa yang terlihat di situ waktu itu bukan sekedar persinggahan turis asing yang biasa2.
Itu adalah potongan kecil dari krisis kemanusiaan dan geopolitik yang jauh lebih besar: percampuran antara tekanan di negara asal, jaringan penyelundupan manusia, posisi Indonesia sebagai negara transit, dan pengetatan kebijakan perbatasan Australia.
Indonesia sendiri telah lama dipetakan sebagai negara transit penting dalam migrasi tidak teratur menuju Australia, dan forum regional pada 2013 juga membahas meningkatnya pergerakan laut tidak teratur di Asia-Pasifik.
Untuk memahami bagaimana mereka bisa sampai ke Kendari, kisahnya perlu ditarik ke Iran pada periode 2009 hingga awal 2010-an.
Setelah pemilu presiden Iran pada tahun 2009, negara itu mengalami gelombang protes besar dan penindakan keras. Human Rights Watch dan Amnesty International sama-sama mencatat penangkapan massal, kekerasan terhadap demonstran, serta represi berkepanjangan terhadap kritik dan oposisi pada periode itu.
Dalam situasi seperti itu, bagi sebagian orang, keluar dari Iran bukan hanya soal mencari hidup yang lebih baik, tetapi juga soal mencari ruang aman untuk bertahan.
Tetapi jalur menuju tempat aman itu tidak langsung.
Banyak migran dan pencari suaka dari Iran memilih Indonesia sebagai titik transit. Riset pemerintah Australia tentang migrasi tidak teratur menyebut Indonesia sebagai “quintessential transit migration country,”
Sementara studi lain menunjukkan bahwa sebagian migran Iran memilih Indonesia karena saran teman, jaringan sosial, atau penyelundup yang melihat Indonesia sebagai batu loncatan tercepat untuk perjalanan laut ke Australia.
Dalam wawancara-wawancara tersebut, kebijakan Australia yang kemudian menyatakan jalur laut “tertutup” juga disebut memengaruhi keputusan mereka untuk menunda, mengubah, atau membatalkan rencana menyeberang.
Di sinilah Sulawesi Tenggara, termasuk Kendari, masuk ke dalam peta migrasi global itu. Pada Juni 2013, ANTARA memberitakan bahwa 139 “imigran gelap” yang diamankan di Wakatobi dibawa ke Kendari untuk diserahkan ke pihak imigrasi.
Berita lain pada periode yang sama juga menunjukkan dugaan keterlibatan fasilitator lokal yang mengarahkan migran dari hotel-hotel di Kendari menuju pesisir Konawe Selatan dan Muna Barat untuk mencari kapal sewa ke Australia.
Dari sudut pandang warga setempat, yang tampak mungkin hanya rombongan orang asing di jalan atau hotel; tetapi di belakangnya, ada jaringan lintas negara yang sedang bekerja.
Hotel Srikandi di Baruga lalu menjadi salah satu ruang tunggu dari kebuntuan itu. Ketika fasilitas penahanan atau penampungan resmi terbatas, hotel-hotel di Kendari dipakai sebagai penampungan sementara.
Ketegangan pun tidak terhindarkan. Pada Agustus 2013, ANTARA melaporkan Kedutaan Besar Iran meminta warganya di Kendari agar tidak bertindak anarkis. Pada bulan yang sama, ada pula laporan tentang penangkapan seorang migran asal Iran dalam kasus penganiayaan.
Semua ini memperlihatkan bahwa mereka tidak sekadar “singgah,” tetapi sedang hidup dalam ketidakpastian yang panjang, sempit, dan menekan.
Situasi mereka makin buntu karena pada 2013 Australia menjalankan Operation Sovereign Borders, operasi keamanan perbatasan yang dipimpin militer dan ditujukan untuk menghentikan kedatangan laut tanpa visa sah.
Situs resmi pemerintah Australia menyebut operasi ini dimulai pada 2013 dan menegaskan bahwa satu-satunya cara masuk ke Australia adalah dengan visa yang sah.
Penelitian lain dari pemerintah Australia juga mencatat bahwa ketika para migran mengetahui lebih rinci tentang penutupan jalur laut, pemindahan ke pusat pemrosesan regional, dan detensi, banyak yang mengubah rencana perjalanan mereka dari Indonesia.
Dengan kata lain, impian untuk segera sampai ke Australia mendadak kandas, sementara mereka sudah terlanjur berhenti di kota-kota transit seperti Kendari.
Itulah sebabnya, bagi warga Kendari pada masa itu, pemandangan di Baruga terasa begitu ganjil: orang-orang yang secara fisik hadir di tengah kota, tetapi secara sosial seperti menggantung di ruang antara.
Mereka bukan turis. Mereka juga bukan penduduk yang benar-benar menetap.
Mereka adalah manusia-manusia yang terjebak di antara tiga hal sekaligus: tekanan dari negara asal, tipu daya dan ongkos mahal jaringan penyelundupan, serta pintu tujuan yang tiba-tiba tertutup rapat.
Besarnya arus perpindahan paksa global pada periode yang sama juga tercermin dalam laporan UNHCR Global Trends 2013, yang menunjukkan 2013 sebagai salah satu tahun paling berat dalam sejarah modern perpindahan paksa internasional.
Lalu ke mana mereka pergi setelah Hotel Srikandi mulai lengang?
Jejak yang paling jelas adalah pemulangan dan pemindahan bertahap. Pada September 2013, ANTARA Sultra memberitakan bahwa 11 warga negara Iran dipulangkan dari Kendari ke negara asalnya, dan setelah itu masih ada sekitar 100 migran lain yang tersisa di Kendari.
Ini menunjukkan bahwa penampungan di hotel-hotel seperti Srikandi memang tidak bersifat permanen.
Mereka yang gagal melanjutkan perjalanan atau tidak lagi melihat peluang untuk menyeberang diarahkan ke jalur pemulangan, sementara yang lain menunggu proses administratif lebih lanjut melalui skema penanganan pengungsi dan migran transit yang saat itu berjalan di Indonesia.
Karena itu, ketika beberapa bulan kemudian Hotel Srikandi tampak lebih lengang, itu bukan berarti kisah mereka benar-benar selesai. Sebagian mungkin dipulangkan.
Sebagian lain mungkin dipindahkan ke lokasi penanganan lain. Dan sebagian kecil mungkin tetap hidup bertahun-tahun dalam status transit, menunggu keputusan yang tak kunjung pasti.
Yang hilang dari pandangan warga Baruga hanyalah kehadiran fisik mereka di jalan raya; sementara ketidakpastian yang mereka bawa kemungkinan terus berlanjut jauh setelah mereka meninggalkan kota Kendari.
Itu sebabnya ingatan tentang Baruga pada 2014 tiba2 saja menyeruak ketika konflik Timur Tengah di kawasan Selat Hormuz semakin memanas.
Yang tampak waktu itu memang hanya orang-orang berjalan kaki di depan hotel. Tetapi sesungguhnya, yang sedang lewat di hadapan mata adalah sejarah kecil dari dunia yang sedang bergejolak: sejarah tentang negara transit, perbatasan yang mengeras, dan manusia-manusia yang terpaksa hidup di sela keputusan politik negara lain.(*)
Sumber:
ANTARA — “Polisi: 139 imigran gelap dibawa ke Kendari” (10 Juni 2013).
ANTARA — “Kedubes Iran minta imigran gelap tidak anarkis” (22 Agustus 2013).
ANTARA Sultra — “11 Imigran Gelap Iran Dipulangkan” (20 September 2013).
ANTARA Sultra — “Anggota Polda Sultra Diduga Terlibat Pidana Keimigrasian” (29 Mei 2013).
ANTARA Sultra — “Polisi Tangkap Imigran Gelap Iran Karena Penganiayaan” (17 Agustus 2013).
Operation Sovereign Borders — situs resmi pemerintah Australia.
Australian Department of Home Affairs — “Indonesia as a Transit Country in Irregular Migration to Australia” (PDF).
Australian Department of Home Affairs — “Information consumption and decision making of irregular migrants in Indonesia” (PDF).
UNHCR — “Global Trends 2013” (PDF).
Refworld / UNHCR — “Co-Chairs’ Summary: Regional Roundtable on Irregular Movements by Sea in the Asia-Pacific Region, Jakarta, 18–20 March 2013” (PDF).
Human Rights Watch — “Iran: Halt the Crackdown” (19 Juni 2009) dan World Report 2010: Iran.
Amnesty International — “Iran: Election contested, repression compounded” dan laporan/liputan terkait represi pasca-pemilu 2009–2013.*










