Oleh: Irpan, Mantan Pemilik Pangkalan yang Rungkad Dihantam Pandemi
Oke baik, pelan-pelan, saya jawab satu-satu, berupaya adil sejak dalam pikiran, saya jawab salah kita semua. Kenapa saya bilang seperti itu? ok saya jelaskan.
Tapi sebelum itu saya minta dulu dibuatkan secangkir kopi hitam buatannya belionya belio, yapa lagi kalau bukan pemegang kunci-kunci duniaku, Istriku.
Oke kopi hitam sudah ada, rokok kesukaanku sudah ada, saya mulai dari diri saya, saya coba kembali mengingat masa lalu. Sebagai mantan pelaku di tahun 2015 sampai 2021, dulu saya memiliki pangkalan, saya tahu betul kenapa bisa sebagian pangkalan menjual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET). Walau sudah ada ketetapan tidak boleh menjual diatas HET.
Kenapa sebagian pangkalan menjual diatas HET? Pertama untuk memiliki pangkalan di tahun itu butuh biaya 30 jutaan, sekarang mungkin sudah 50 jutaan. Itu biaya yang ditetapkan belum lagi uang pelicin yang mesti dikasihkan ke Agen tempat kita bermohon buat pangkalan, agar pangkalan cepat ada dan usaha berjalan, modal cepat kembali.
Misal saya, saat itu saya beli pangkalan orang 20 Juta. Dengan modal menggadai BPKB Motor di Bank Pemerintah, KUR nama kreditnya, kredit cair 25 juta, kurang perhitungan yang matang, berharap untung banyak dan kembali cepat (pikirku saat itu).
Sebelum banting stir menjadi kuli tinta, saya adalah anak seorang pedagang sembako yang berusaha melanjutkan usaha orang rumah, namun kandas karena masa pandemi, hitunganku tak matang, banyak usaha saat itu gulung tikar.
Saat itu saya beli pangkalan orang seharga 20 Juta, 5 Juta untuk tambah tabung. Ternyata biaya itu tak cukup. Saya mesti menyetor uang pelicin atau uang terimakasih (tapi kalau nda cukup angkanya tidak diproses). Saat itu saya kembali menggadaikan BPKB motor lainnya di salah satu pembiayaan untuk menambah modal, cair 10 Juta. Saat itu agen berdalih ada biaya balik nama dan tete benge lainnya, saya sempat melawan, marah dan protes. Apa balasannya? mereka turunkan tabung gas LPG 3 Kilo Gram di pangkalan lama, yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahku saat itu. Alhasil saya mesti mengangkut ulang manual menggunakan motor. Akhirnya saya legowo saja, karena pikirku yang penting saya punya pangkalan dulu.
Berjalan waktu ternyata bisnis pangkalan tabung lpg 3 kilo gram bukan bisnis yang menjanjikan, saya saat itu ditipu oleh sopir agen tersebut, seratusan tabung melayang. Agen enggan bertanggung jawab karena agen juga merasa juga sebagai korban ribuan tabung melayang dibawa lari sama sopirnya. Protes sempat saya layangkan, namun tak kunjung membuahkan hasil, malah kena tipu sama kuli tinta ‘bodrex’, uang diambil, berita tak ada, malah dia melingkar ke agen. Ini juga salah satu alasan kenapa saya memilih menekuni profesi ini.
Di momen itu juga saya bertemu sejumlah pengusaha pangkalan dari berbagai latar belakang, bahkan ada oknum BUMN, mereka aman diganti rugi, karena punya power dan kuasa. Sebagian dari kami yang hanya modal nekat berusaha dan hitungan tidak matang mesti gulung tikar.
Lalu apa lagi, kenapa tabung melon langkah mahal jelang lebaran Idul Fitri, Idul Adha, dan nataru, itu momentum pangkalan meraup untung. Lalu hal itu salah? menurut saya benar tak ada pengusaha yang mau merugi dan pasti melihat peluang itu tiap tahun, siklus itu berulang.
Kemudian apalagi yang biasa dimainkan pangkalan? misal kami dapat jatah 400, yah kami jual sama masyarakat 200, sama pengepul 200 nya lagi. KTP dan tandatangan masyarakat bisa kita akali. Kenapa mesti begitu? karena dulu kami nyetor juga ke atas. Barang ini sudah dari hulu ke hilir.
Pengepul ini biasa menjual ke sari laut, bahkan sampai keluar kota dan provinsi Sultra. Semua sudah di koordinasikan barang itu. Nda percaya? saya siap buka datanya di ruang diskusi terbuka.
Salah siapa lagi? salah masyarakat yang pura-pura miskin dan mesti mendapatkan jatah tabung melon, berani tidak yang menggunakan.tabung melon tulis didepan rumahnya bahwa dia gunakan tabung melon. Jangan diluar pura-pura kaya parlente tapi dirumah masih gunakan tabung melon. Tabe, sebagai penebusan dosaku di masa lalu saya sudah sejak lama gunakan tabung pink. Nda percaya datang kerumahku, cek sendiri.
Solusinya apa? perbaiki tata kelola dari hulu ke hilir. Jangan hanya buat pasar murah kagetan, ini hanya jadi ajang pencitraaan. Jika akar masalahnya tak dituntaskan. Kemudian masing-masing kita mesti instropeksi diri. Layak tidak kita menggunakan tabung melon.*










