Jumat, September 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaOpiniOPINI: Transportasi Online bagi Bandara Halu Oleo dan Pelabuhan Nusantara Adalah Keharusan,...

OPINI: Transportasi Online bagi Bandara Halu Oleo dan Pelabuhan Nusantara Adalah Keharusan, Siapa Bisa Bantah?

Oleh: Irpan

Ada satu pertanyaan sederhana ketika seseorang tiba di sebuah kota. Setelah turun dari pesawat atau kapal, bagaimana ia melanjutkan perjalanan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi jawabannya menentukan kesan pertama seseorang terhadap sebuah daerah.

Di Kendari, pertanyaan itu kembali relevan ketika membicarakan Bandara Halu Oleo dan Pelabuhan Nusantara.

Dua pintu masuk utama.

Dua wajah pertama Kota Kendari bagi banyak pendatang. Lalu, mengapa transportasi online masih menjadi persoalan? Saya kira ini bukan lagi sekadar urusan driver dan penumpang. Ini sudah menyangkut wajah pelayanan sebuah kota.

Bayangkan seorang tamu datang ke Kendari. Ia membawa koper. Mungkin bersama anak dan istrinya. Mungkin baru pertama kali datang.

Ia membuka aplikasi transportasi online. Mencari kendaraan, Sederhana, bukan?

Tetapi jika kendaraan online tidak leluasa mengambil penumpang di titik kedatangan, urusannya menjadi panjang.

Penumpang bingung, Driver bingung dan Wisatawan bingung. Dan kota ikut mendapat kesan yang kurang baik.

Padahal dunia sudah berubah.

Orang sekarang terbiasa memesan kendaraan melalui telepon genggam.

Mereka ingin tahu siapa pengemudinya. Berapa tarifnya. Berapa lama perjalanan. Di mana kendaraan menunggu.

Semua transparan, Semua bisa dilacak.

Itulah mengapa transportasi online bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup. Ia sudah menjadi bagian dari ekosistem transportasi perkotaan.

Kendari juga tidak boleh menutup mata terhadap perubahan itu.

Bandara Halu Oleo bukan sekadar tempat pesawat mendarat. Pelabuhan Nusantara juga bukan sekadar tempat kapal bersandar.

Keduanya adalah pintu ekonomi, Pintu wisata, dan Pintu investasi. Pintu bagi orang yang datang membawa uang dan membawa cerita tentang Kendari.

Maka, akses transportasi dari dua pintu tersebut harus dibuat semudah mungkin.

Tentu saya tidak sedang mengatakan transportasi konvensional harus disingkirkan.

Bukan itu, Justru semua moda transportasi harus hidup berdampingan. Taksi konvensional tetap punya ruang. Angkutan umum tetap diperlukan. Transportasi online juga punya pasar dan kebutuhan sendiri.

Yang diperlukan adalah aturan main yang jelas. Titik jemput yang jelas, Zona tunggu yang jelas, Tarif yang transparan dan tentu saja keamanan yang terjamin.

Jangan sampai persoalannya menjadi perang antara transportasi online dan transportasi konvensional.

Yang harus menjadi pemenang adalah penumpang, Sebab penumpanglah yang membayar. Dan dari uang penumpang itulah roda ekonomi transportasi berputar.

Pemerintah daerah bersama pengelola bandara, pelabuhan, kepolisian, operator transportasi dan para pelaku usaha sebenarnya bisa duduk bersama.

Tidak perlu terlalu rumit, Tentukan titik jemput, Atur arus kendaraan. Buat mekanisme pengawasan, Berikan ruang yang adil bagi semua.

Kalau ada kekhawatiran soal keamanan, jawabannya adalah regulasi. Kalau ada kekhawatiran soal ketertiban, jawabannya adalah pengaturan. Bukan dengan menutup akses.

Kota-kota lain sudah menghadapi persoalan semacam ini.

Kendari seharusnya belajar dari pengalaman tersebut. Kita ingin Kendari menjadi kota yang ramah terhadap wisatawan.

Kita ingin investasi datang, Kita ingin pelaku UMKM tumbuh, Kita ingin pergerakan orang semakin mudah.

Semua itu membutuhkan satu hal yang sering dianggap sepele, mobilitas.

Orang harus bisa bergerak dengan mudah, Dari bandara ke hotel, Dari pelabuhan ke pusat kota, Dari pusat kota ke kawasan wisata, Dari rumah ke tempat usaha dan sebaliknya.

Transportasi online dapat menjadi salah satu bagian dari solusi tersebut.

Bukan satu-satunya solusi, Tetapi tidak bisa diabaikan. Saya kira sudah waktunya persoalan ini dibicarakan secara terbuka. Bukan untuk mencari siapa yang salah, Bukan pula untuk menentukan siapa yang menang.

Melainkan mencari sistem yang paling masuk akal bagi Kota Kendari.

Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya kota yang punya bandara megah atau pelabuhan yang ramai.

Kota yang baik adalah kota yang membuat orang mudah datang, mudah bergerak, dan ingin datang kembali.

Bandara Halu Oleo dan Pelabuhan Nusantara adalah pintu.

Jangan sampai pintunya sudah terbuka lebar, tetapi tamu yang datang justru kesulitan mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan.

Kalau itu terjadi, pertanyaannya sederhana, Kita sebenarnya sedang memudahkan tamu datang ke Kendari, atau justru membuat mereka berpikir dua kali untuk kembali?, Siapa bisa bantah?.

Keterangan tambahan tulisan ini tidak lahir dari hasil studi banding, hanya bermodalkan sebungkus rokok dan kopi hitam racikan belionya belio.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -