KENDARIKINI.COM – Universitas Halu Oleo (UHO) dipercaya Badan Gizi Nasional (BGN) menyusun kajian gizi wilayah terpencil.
Penugasan ini menempatkan UHO sebagai satu dari lima perguruan tinggi nasional terlibat dalam kajian SPPG.
Plt Rektor UHO, Dr Herman, menyebut kepercayaan ini sebagai amanah besar sekaligus misi kemanusiaan.
Ia menegaskan wilayah terpencil menghadapi kendala akses, distribusi pangan, dan keterbatasan layanan gizi.
Kajian ini diharapkan memberi solusi konkret bagi persoalan pemenuhan gizi masyarakat terpencil.
Herman menambahkan, pemerataan gizi merupakan hak seluruh warga, termasuk masyarakat di daerah sulit dijangkau.
Menurutnya, program ini langkah strategis pemerintah memastikan akses pangan bergizi merata.
Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof Sitti Aida Adha Taridala, menyebut UHO dipilih karena kapasitas risetnya.
UHO dinilai unggul dalam kajian pedesaan, pesisir, dan kelautan dengan dukungan tenaga ahli berpengalaman.
Selain UHO, BGN juga menggandeng UI, UGM, Universitas Diponegoro, dan IPB.
Setiap perguruan tinggi mengerjakan kajian berbeda sesuai kompetensi masing-masing.
Kerja sama ini menggunakan skema swakelola tipe II untuk mempercepat pelaksanaan.
Penandatanganan kontrak dilakukan dan diharapkan seluruh tahapan berjalan lancar.
Kajian ini penting sebagai dasar implementasi program makanan bergizi gratis.
Program dilatarbelakangi tingginya angka stunting dan rendahnya kebiasaan sarapan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 60 persen masyarakat tidak sarapan.
Kondisi ini berdampak pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Kajian mencakup identifikasi wilayah, distribusi logistik, hingga pengelolaan SPPG berbasis lokal.
Termasuk sistem monitoring dan evaluasi berbasis data lapangan.
Program ini juga mendorong koordinasi lintas sektor dan pemberdayaan ekonomi desa.
Pemerintah berharap hasil kajian memperkuat kebijakan gizi tepat sasaran di wilayah terpencil.*










