KENDARIKINI.COM – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sultra pada Januari 2026 sebesar 0,69 persen (month to month/mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 yang tercatat 0,22 persen (mtm) dan berbeda arah dengan inflasi nasional yang berada di -0,15 persen (mtm).
Capaian tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sultra, Edwin Permadi, dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Jalan Martandu, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Senin (9/2/2026).
Edwin menjelaskan, inflasi Januari 2026 terutama disumbang oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, yakni emas perhiasan dengan andil inflasi 0,25 persen, ikan cakalang dan ikan lajang masing-masing 0,10 persen, ikan kembung sebesar 0,06 persen, serta ikan selar sebesar 0,04 persen.
“Kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh tekanan harga emas global seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan instabilitas geopolitik, sehingga mendorong permintaan aset safe haven seperti emas,” ujar Edwin.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas ikan disebabkan oleh menurunnya aktivitas melaut nelayan pada Januari 2026 akibat kondisi cuaca kurang baik serta tingginya gelombang laut yang mencapai di atas 1,5 meter.
Menghadapi potensi peningkatan inflasi menjelang bulan Ramadhan 2026, BI Sultra bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi dan kolaborasi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) serta fasilitasi distribusi pangan.
Program tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan delapan TPID, meliputi Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Buton Selatan, Buton Utara, Wakatobi, Muna, Buton, Kolaka, serta Kota Kendari, dengan dukungan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sultra.
Selain itu, BI Sultra juga mendorong akselerasi pemanfaatan Kios Pangan bersama Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di wilayah tersebut.*










