KENDARIKINI.COM – Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) Irjen Pol Dwi Irianto secara tegas akan menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) pada proyek pembangunan gerbang Kendari-Toronipa senilai 32 miliar itu.
Hal tersebut usai viralnya gerbang yang baru diresmikan itu mengalami kerusakan dan kualitas bangunan yang diduga tidak sesuai dengan nilai anggarannya.
Kapolda Sultra mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan bawahannya untuk melakukan penyelidikan terhadap pembangunan proyek tersebut untuk mengetahui apakah benar terjadi penyimpangan pada proyek yang diresmikan oleh mantan Gubernur Sultra Alimazi itu.
“Jadi kemarin saya sudah perintahkan Dirkrimsus melalui ke Kasubdit Tipikor ikut melaksanakan lidik, Apakah benar ada penyimpangan di situ,” kata irjen pol dwi Irianto saat ditemui di Mapolda Sultra pada Selasa, 17 September 2024.
Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembangunan proyek yang berada di Kelurahan Kendari Caddi Kecamatan Kendari Kota Kendari itu.
“Belum karena kita masih lidik ya. Nanti kalau sudah ketemu siapa-siapa yang harus di sini kan pasti kita akan lakukan klarifikasi,” ungkapnya.
Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengggara (Sultra) sudah melakukan penyelidikan terkait viralnya pembangunan gerbang wisata Kendari-Toronipa senilai Rp 32 miliar yang diresmikan pada februari 2024 itu.
“Subdit tipidkor krimsus polda sultra akan melakukan penyelidikan lebih dalam terhadap viralnya pemberitaan mengenai dugaan tindak pidana korupsi atas pembangunan gerbang wisata kendari tersebut,” kata Ditkrimsus Polda Sultra Kombes Pol Bambang Wijanarko pada Jum’at 13 September 2024.
Kombes pol Bambang mengatakan bahwa pihaknya sejak kemarin telah melakukan pengumpulan data. Serta pihaknya juga telah menjadwalkan waktu klarifikasi kepada pihak-pihak terkait dalam pembangunan gerbang-toronipa yang dibangun tahun 2023 itu.
“Sejak kemarin penyidik sudah mulai mengumpulkan data, dan insyaallah mulai minggu depan akan mulai meminta klarifikasi pihak pihak terkait,” pungkasnya.
Sebelumnya, media ini mengonfirmasi Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Pahri Yamsul, Ia membenarkan bahwa anggaran pembangunan gerbang tersebut memang mencapai Rp 33 miliar. Ia menjelaskan bahwa pilar gerbang menggunakan baja dan dilapisi dengan GRC Board, sesuai dengan desain yang telah disepakati.
“Anggaran sesuai kontrak seperti itu jumlahnya. Pilar beton menggunakan Baja, dinding penutup menggunakan GRC sesuai dengan gambar desain yang telah di sepakati” jelas Pahri melalui pesan WhatsApp pada Minggu, 1 September 2024.
Namun, ketika diminta penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pemilihan GRC Board untuk lapisan luar pilar, Pahri Yamsul mengarahkan media untuk mengonfirmasi kepada Kabid Bina Marga, Harmunadin.
“Kalau itu nanti tanyakan ke penanggung jawab kegiatan namanya pak Harmunadin kabid bina marga, karena ketika itu saya belum ada di dinas Bina Marga sehingga saya tidak tau alasan teknisnya,” ungkapnya.
Namun, saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, pada Rabu 4 September 2024, Harmunadin terkesan irit bicara dan enggan memberikan penjelasan rinci.
“Nanti konsultan perencanaan yang jelaskan untuk lebih detailnya,” ucapnya singkat, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Selain itu, Konsultan Perencana, Nizar saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp, Kamis, 5 September 2024 mengatakan terkait hal tersebut, awalnya itu dari usulan Gubernur Sultra pada zaman itu.
“Jadikan begini terkait video viral itu di media sosial, kan awalnya itu usulan jaman Pemprov waktu zaman Pak Ali Mazi, pada waktu itu beliau ingin ada satu ikon di jalan menuju wisata Toronipa, yang sedikit berkiblat ke London Bridge yang ada Inggris, tapi kalau yang disana memang beton, dan ukurannya lebih kecil, semacam gapura, dia hanya mengolongi dua lajur jalan, sedangkan kita empat lajur jalan,” ucapnya.
Lanjutnya dengan kondisi seperti itu tidak bisa dibuatkan beton semua.
“Dengan bentang 30 Meter gerbang Kendari-Toronipa, tanpa adanya topangan, satu-satunya solusi yah dengan rangka baja, itu seperti bangunan-bangunan lainnya juga menggunakan rangka baja dan dilapisi fasat yang sifatnya eksterior, dia bukan struktural itu lah GRC atau campuran beton dengan nilon fiber, dan itu material umum untuk digunakan seperti di Masjid Al-Alam,” ungkapnya.
Sambungnya pihaknya memilih struktur itu agar tidak terlalu berat, dan terhindar dari kemungkinan terbukti jika terjadi bencana.
“Struktur itu dibuat bukan untuk dipukul-pukul, atau dilempari, bukan soal tahan atau tidaknya, tapi peruntukannya untuk mempercantik strukturnya,” tambahnya.
Pihaknya juga mengungkapkan bahwa sebelum penyelesaian seratus persen, beberapa kali ada perusakan dari OTK.
“Sebelum diselesaikan seratus persen juga sudah beberapa kali kita dapat ada yang sengaja merusaki, dan pada saat itu kita sudah sampaikan dan sosialisasikan ke masyarakat sekitar untuk dijaga sama-sama ikon pembangunan kita ini,” pungkasnya.*










