KENDARIKINI.COM – BEM FEBI UMK menyoroti kelangkaan dan mahalnya LPG 3 Kg di Kendari. Kondisi ini membebani masyarakat kecil.
Ketua BEM FEBI UMK, Andi Fajar, menyebut persoalan kini berkembang menjadi krisis harga yang tidak terkendali.
Ia menilai harga di lapangan melampaui HET, sementara pasokan sulit ditemukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
“Ini ironi. Barang langka, saat ada harganya justru melambung tinggi,” tegas Andi Fajar, Jumat (20/3/2026).
Menurutnya, kondisi ini mengindikasikan masalah serius pada distribusi dan lemahnya pengawasan oleh pihak terkait.
Ia menduga praktik penimbunan dan distribusi tidak tepat sasaran menjadi pemicu kelangkaan dan kenaikan harga.
BEM FEBI UMK mendesak Pemkot Kendari memperketat pengawasan serta melakukan operasi pasar secara intensif.
Selain itu, inspeksi mendadak di pangkalan dan pengecer perlu dilakukan untuk menekan potensi pelanggaran.
Andi Fajar juga meminta penegakan hukum tegas terhadap pelaku penimbunan dan permainan harga LPG bersubsidi.
“Sanksi harus tegas, mulai pencabutan izin hingga proses hukum tanpa kompromi,” ujarnya.
BEM FEBI UMK turut mendesak Pertamina mengevaluasi sistem distribusi LPG 3 Kg di Kota Kendari.
Transparansi data pasokan dinilai penting untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan di lapangan.
Kelangkaan LPG berdampak pada kenaikan biaya produksi UMKM dan menurunkan daya beli masyarakat.
Jika berlanjut, kondisi ini berpotensi memicu inflasi daerah dan memperlebar kesenjangan sosial.
BEM FEBI UMK menegaskan LPG 3 Kg merupakan hak masyarakat kecil yang wajib dijamin negara.*










