Kamis, Juli 9, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Soal Proyek Gerbang Wisata Kendari-Toronipa, Akademisi: Jika Ada Mark Up Anggaran BPK dan Inspektorat Akan Periksa

KENDARIKINI.COM – Pembangunan Gerbang Kendari – Toronipa tuai kritikan dari Akademisi Sultra, Senin 23 September 2024.

Mega proyek di masa kepemimpinan Gubernur Ali Mazi ini tak henti-henti menjadi sorotan. Mulai dari konten creator, Artis, Novelis, politisi, LSM hingga yang terbaru dari Akademisi.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) Dr. Ir. Edward Ngii, S.T., M.T. mengatakan secara umum, setiap proyek besar memiliki organisasi proyek. Mulai dari direksi, konsultan perencana, pengawas dan pelaksana. selain itu juga ada mekanisme lelang perkejaan yang saat ini sudah semakin transparan.

“Jika semua clean dan clear, sudah nda perlu dipermasalahkan tinggal dijaga aset-aset tersebut,” ujarnya via pesan WhatsApp.

Lanjut, kata dia, jika ada kerusakan maka masih masuk dalam masa tanggungjawab pelaksana untuk memperbaikinya.

Selain itu, berkaitan dengan jumlah anggaran yang di gelontorkan, tinggal di check item mana yang menyerap banyak anggaran. Bahkan, pihak inspektorat dan BPK memiliki peran dalam memeriksa apabila terjadi markup anggaran.

“Kalau berkaitan dengan kewajaran harga, tinggal dilihat saja di item mana yang menyerap anggaran paling besar. Selain itu ada BPK dan Inspektorat akan pasti memeriksa jika ada indikasi markup,” katanya

Sambungnya, kaitannya dengan anggaran 32,8 M, menurutnya telah dilakukan dengan mekanisme lelang pekerjaan dan terbuka untuk semua kontraktor dalam pengerjaan Mega proyek gerbang Kendari – Toronipa.

“Kalau sudah seperti itu anggaran, sepertinya sudah mekanisme lelang pekerjaan dan terbuka untuk semua kontraktor,” sambungnya.

Dalam sebuah proyek, biasanya terdapat proses perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan. Mekanisme tersebut dilakukan untuk melihat apakah dana tersebut digunakan hanya untuk pelaksanaan atau untuk keseluruhan proses.

“Dalam perencanaan itu nanti ada gambar kerja (bestek) yang menjadi pedoman dalam penentuan harga pekerjaan. Selain itu setelah selesai pekerjaan ada gambar as built drawing,” katanya.

Diketahui, As Built Drawing ialah sebagai gambar rekaman akhir yang dibuat sesuai dengan kondisi terbangun di lapangan yang telah mengadopsi semua perubahan selama proses pekerjaan konstruksi.

Sementara itu sebelumnya PJ Gubernur Sultra telah memerintahkan inspektorat untuk melakukan audit atas pengerjaan proyek Gerbang Kendari-Toronipa.

Selain itu Kapolda Sultra juga telah memerintahkan kepada personelnya untuk melakukan penyelidikan dugaan Tipikor terhadap pengerjaan proyek tersebut.

Media ini juga sebelumnya mengonfirmasi Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Pahri Yamsul, Ia membenarkan bahwa anggaran pembangunan gerbang tersebut memang mencapai Rp 33 miliar. Ia menjelaskan bahwa pilar gerbang menggunakan baja dan dilapisi dengan GRC Board, sesuai dengan desain yang telah disepakati.

“Anggaran sesuai kontrak seperti itu jumlahnya. Pilar beton menggunakan Baja, dinding penutup menggunakan GRC sesuai dengan gambar desain yang telah di sepakati” jelas Pahri melalui pesan WhatsApp pada Minggu, 1 September 2024.

Namun, ketika diminta penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pemilihan GRC Board untuk lapisan luar pilar, Pahri Yamsul mengarahkan media untuk mengonfirmasi kepada Kabid Bina Marga, Harmunadin.

“Kalau itu nanti tanyakan ke penanggung jawab kegiatan namanya pak Harmunadin kabid bina marga, karena ketika itu saya belum ada di dinas Bina Marga sehingga saya tidak tau alasan teknisnya,” ungkapnya.

Namun, saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, pada Rabu 4 September 2024, Harmunadin terkesan irit bicara dan enggan memberikan penjelasan rinci.

“Nanti konsultan perencanaan yang jelaskan untuk lebih detailnya,” ucapnya singkat, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Selain itu, Konsultan Perencana, Nizar saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp, Kamis, 5 September 2024 mengatakan terkait hal tersebut, awalnya itu dari usulan Gubernur Sultra pada zaman itu.

“Jadikan begini terkait video viral itu di media sosial, kan awalnya itu usulan jaman Pemprov waktu zaman Pak Ali Mazi, pada waktu itu beliau ingin ada satu ikon di jalan menuju wisata Toronipa, yang sedikit berkiblat ke London Bridge yang ada Inggris, tapi kalau yang disana memang beton, dan ukurannya lebih kecil, semacam gapura, dia hanya mengolongi dua lajur jalan, sedangkan kita empat lajur jalan,” ucapnya.

Lanjutnya dengan kondisi seperti itu tidak bisa dibuatkan beton semua.

“Dengan bentang 30 Meter gerbang Kendari-Toronipa, tanpa adanya topangan, satu-satunya solusi yah dengan rangka baja, itu seperti bangunan-bangunan lainnya juga menggunakan rangka baja dan dilapisi fasat yang sifatnya eksterior, dia bukan struktural itu lah GRC atau campuran beton dengan nilon fiber, dan itu material umum untuk digunakan seperti di Masjid Al-Alam,” ungkapnya.

Sambungnya pihaknya memilih struktur itu agar tidak terlalu berat, dan terhindar dari kemungkinan terbukti jika terjadi bencana.

“Struktur itu dibuat bukan untuk dipukul-pukul, atau dilempari, bukan soal tahan atau tidaknya, tapi peruntukannya untuk mempercantik strukturnya,” tambahnya.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa sebelum penyelesaian seratus persen, beberapa kali ada perusakan dari OTK.

“Sebelum diselesaikan seratus persen juga sudah beberapa kali kita dapat ada yang sengaja merusaki, dan pada saat itu kita sudah sampaikan dan sosialisasikan ke masyarakat sekitar untuk dijaga sama-sama ikon pembangunan kita ini,” pungkasnya.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -