Minggu, Juni 28, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

OPINI: Lebaran di Muna

Rekaman ingatan ini bagai terulang dari tahun ke tahun. Seperti dejavu, tapi toh nyata. Sebuah fenomena yang merindukan. Membingkis dinamika sosial, yang menarik dibahas di warung kopi.

Kala itu terik siang menyengat kulit. Bergerombol belia bergegas tergesa ke tanjung pelabuhan. Riang nan riak menjemput kapal penumpang rute dari Bau-Bau.

Tak tunggu menepi sempurna, dinding kapal sekejap bergedebukan. Hujaman lompatan mereka bagaikan suara pacuan tapak kuda. Ada yang berkepentingan menjajakan jajanan, jasa pikul, antar jemput, juga sekadar menjemput.

Terlihat dari geladak, jumlah penumpang dari Bau-Bau tak begitu padat. Masih banyak ruang kapal yang lengang. Berbeda jauh dibanding calon penumpang dari Muna.

Ombak berkilau diterpa mentari. Seraya memukul-mukul dinding kapal. Separuh penumpang bergegas turun, bertujuan Raha. Di depan pintu bersiaga, tak sabaran sejumlah penumpang merapat.

Antriannya sesak. Kadar sabarnya agak kurang untuk menunggu. Sangat ingin bersegera masuk. Petugas gabungan agak kewalahan menertibkan. Hingga tak jarang sorak teguran terdengar melengking.

Sampai setelah berpuluh-puluh menit bludakkan penumpang pun terurai. Tali tambat dilepas. Kapten mengomando ABK, tanda berlabuh sudah waktunya. Perlahan memutar, kapal pun berlabuh arah utara. Menuju Kota Kendari.

Lambaian tangan ramai berbalas-balas. Tiga-empat pasang mata berkaca-kaca. Dari air mukanya, ada perpisahan yang harus dirayakan sedemikian. Berat sekali.

Arus balik cukup deras meninggalkan Pulau Muna. Menyisakan kerinduan pada sanak saudara. Melangitkan doa-doa kesuksesan, menumpukkan segala asa dari sang nasib. Dampaknya turut mensunyikan kampung halaman.

Hari demi hari, pasca lebaran arus balik menderas. Perlahan jazirah Muna menyepi. Tak sedikit nian penduduknya merantau. Pasar Laino tak lagi riuh, tempat wisata tak lagi ramai – terkecuali sampahnya. Dan yang pasti penghasilan ojek dan UMKM kembali menurun.

Melihat fenomena mudik secara retrospektif, dari tahun ke tahun angkanya cenderung meningkat. Gejala ini mengindikasikan bahwa kebanyakan golongan masyarakat produktif lebih memilih menjajal kehidupan di daerah lain.

Pada periode 2021-2025, tercatat rata-rata pertumbuhan penduduk tahunan Muna sebesar 1,49 persen. Tingkat pengangguran mencapai 4,14 persen di tahun 2025. Hal ini berarti setiap 100 angkatan kerja, rata-rata 4 orang diantaranya belum bekerja atau belum terserap dalam pasar kerja.

Mereka merantau. Sebagai konsekuensinya, perputaran ekonomi harus melambat. Kabupaten Muna terus melahirkan perantau. Umumnya beberapa alasan melandasinya, yakni lapangan pekerjaan menjadi penyebab utama. Disusul alasan mengenyam pendidikan dan sudah berkeluarga di daerah lain.

Berkeluarga di daerah lain karena memang kerjaan layak ada di sana. Artinya apa? faktor ketersediaan lapangan kerja memang dominan jadi variabel utama. Anehnya, kita punya banyak lahan tidur. Perluasan areal tanam jagung perlahan membuktikan bahwa ada sesuatu yang terlewatkan oleh generasi kita.

Bupati Muna, Bachrun Labuta, telah mendapatkan pasaran jagung kuning di Bulog dan para pengumpul. Harganya berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 7.000 per kilogram. Ada jaminan pasar untuk yang mau berkebun secara profesional. Tapi, pertanyaannya, berapa orang dari pemuda kita yang gengsi dengan bertani?

Usia produktif tercurah ke daerah lain. Kebanyakan berkebun dipandang sebagai pekerjaan pensiun. Ini mindset yang harus segera diubah. Ada titik cahaya harapan di sektor pertanian Muna. Saya membayangkan jika 10 pemuda tiap desa menjadi pelopor berkebun. Apalagi jika termodali oleh program yang berkelanjutan.

Perputaran ekonomi sangat tergantung pada pelaku ekonominya. Jika tidak ada yang memulai, keadaan akan terus stagnan. Kita butuh generasi pendobrak yang mau mengubah jalan ke masa depan dengan terjun di sektor pertanian.

Momen mulai H-7 Idul Fitri mengindikasikan padatnya jumlah usia produktif yang pulang kampung. Di Torobulu jumlah antrian mengerikan. Lalu lintas dalam kota mulai macet. Pedagang makanan – UMKM meraup panen laba. Bisa dibayangkan, bagaimana jika kondisi Muna seperti itu terus.

Sangat kontras dengan kondisi hari sebelumnya. Gairah ekonomi begitu terlihat. Jumlah mahasiswa dan masyarakat pekerja menjadi penyumbang tingginya angka mudik.

Penghasilan disini cukup besar dikirim ke mahasiswa dan berputar disana. Sedang masyarakat pekerja hanya mengirim sedikit uang ke Muna. Uang di Muna sebagian besar berputar di luar.

Memang tak cukup alasan untuk menahan mereka bekerja di kampung sendiri. Semua soal pilihan mengais rejeki, mempertahankan dan mengembangkan kehidupan masing-masing.

Esok lusa mereka Kaum Wuna Rantau kembali lagi. Momentum seperti ini berulang-alik. Menebus rindu dengan segala langgam bawaan hasil interaksi sosial di daerah rantauan.

Ada yang sukses memanggul harta. Tak sedikit yang pulang mengubah mindset teman-temannya. Ada juga yang hanya pulang membawa logat barunya. Entahlah. Gue hanya bisa kamboi.*

spot_img
RELATED ARTICLES

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -