Oleh: Muhammad Irpan, Pemuda yang Lahir dan Besar di Sultra
Pagi di Minggu 26 April 2026, tadi saya terbangun setengah 7 pagi, seperti biasa saya terbangun gegara kedinginan, pendingin di kamar kami setelannya ibu negara, saya harus mengalah, dari pada tak dibuatkan kopi hitam di tiap baru bangunku.
Saya dikenal berani diluar, tapi dirumah dia lebih berani dari saya, dari segi umur, angkatan kampus dan organisasi saya lebih tua dan lebih duluan, tapi tetap dia lebih berani. Saya hanya kalah di kuli tinta, dia lebih duluan menekuni profesi ini, jaman bermahasiswa pangkatnya lebih tinggi dari pada suaminya. Starara LK HmI lebih tinggi LK nya dari pada saya. Tapi jangan fokus disitu, nanti keseleo tulisanku bisa dijewer telingaku, apalagi kalau didapat lihat foto dan video ciwi-ciwi bening sedang joget di sosmed, bisa merajuk dia yah kan.
ASR, akronim singkatan dari Andi Sumangerukka, Ia Gubernur Sultra saat ini. Saya bilang dia Petarung dan Dermawan. Siapa berani bantah? Oke sih, saya jawab satu per satu.
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” itu kata Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia.
Pelan-pelan saya ulas satu per satu, Gubernur saat ini selalu dikaitkan dengan PT TMS, perusahaan di Kabaena. Yang saat ini tengah ditagih oleh Satgas PKH 2 Triliun, dan sudah dipanjar 500 Miliar. Ini langkah berani mengakui kesalahan.
Kalau mau berpikir adil, bukan politis yah, ini isu yang kerap diulang-ulang. Masyarakat selalu disajikan dengan isu ini. Istrinya pernah disematkan ratu nikel. Kalau saya dikasih begini Istriku, saya cariko hehe. Tapi dia tidak seperti itu. Dia tetap fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin daerah ini.
PT TMS dimana itu? IUP nya ada di pulau kabaena pulau kecil di Sultra, lalu kalau mau adil lagi IUP PT Antam itu di pulau maniang, ini pulaunya lebih kecil dan ada di Kabupaten Kolaka, ini milik BUMN yah. Lalu di kabaena ada PT Timah, ini setengah sahamnya milik negara, dugaan pencemarannya lebih parah, saya pernah dua kali kesana mengambil data. Kalau mau menyombongkan diri, siapa yang berani bantah data-data tambang di Sultra yang ada saya pegang. Jadi negara sendiri yang memberikan contoh yah, clear yah.
Terus, serangan-serangan terus digencarkan oleh lawan politiknya. Terbaru isu soal program Sultra Cerdas. Menjawab isu itu ia langsung tegas jawab dengan berani merogoh kocek pribadinya. Ini langkah berani, sangat sedikit pemimpin yang berani seperti ini. Ditengah efisiensi anggaran, janji kampanye, ribertnya administrasi pemerintahan. Ia berani menjawab dengan menggunakan dana pribadinya. Saya saran ke lawan politiknya, kalau berani buat beasiswa serupa, gunakan dana pribadi. Kita tarung secara sehat.
Ini juga sebuah langkah kedermawanan, saya tak mau menulis banyak tentang kedermawanan belio. Banyak ji di Om Google cari saja sendiri.
Saya juga minta maaf yah Pak, pernah mewawancarai bapak soal isu ini tapi saya belum tulis beritanya yah Pak. Sebagai permohonan maaf saya, saya buat tulisan ini.
Lalu jembatan di Konut, dia juga pernah tegas mengutarakan gunakan dana pribadinya. Petarung dan dermawan bapak ini. Melihat penderitaan masyarakat ia langsung berani mengatakan itu untuk menjawab keluh kesah masyarakatnya.
Terus yang mesti kita pahami, pemerintahan itu ribet, administrasi bla bla. belum lagi oknum-oknum kadis yang minta japre, titip ini itu.
Kalau tanya pembangunan, sabar dan tenang. Bapak ini petarung dan dermawan. Andaikan tidak ada efisiensi anggaran, nda tahu dia sulap Sultra macam apa. Andaikan ini sistem kerajaan, tanpa ada aturan yang terlalu banyak mengikat, tumpang tindih, sudah ia apakan Sultra ini, pasti ia buat keren. Kasih belio kesempatan sampai selesai masa jabatannya. Mayoritas masyarakat Sultra yang pilih Bapak ini.
Kemudian apa lagi? dia berani bertarung yang kata orang ini bukan tanah kelahirannya, dia bukan suku asli sini. Ia hanya pernah besar disini. Bapaknya pernah bertugas disini. Untuk menjawab keramahan masyarakat disini baik saat ia kecil dan tiga kali bertugas disini sebagai Kabinda, Danrem dan Pangdam, ia kembali mengabdi untuk daerah ini.
Tenang dia bukan pemimpin yang menjadikan Paman mertuanya sebagai Sekdanya, Tante Mertuanya sebagai Kadis, dan sepupunya sebagai lurah. Kerajaan toh barang itu. Tenang, netijen berikutnya saya ulas kan kita tentang ini.
Lalu kalau dibilang saya orangnya ASR. Carikan foto saya yang sedang duduk berdua, pasti kalian tidak bisa dapat. Kalau dapat saya kasih rokok kesukaanku dua slop. Saya tidak satu suku dengan bapak ini, saya hanya anak seorang Transmigran, Almarhum Ayah Sunda, Ibu Bali yang memilih jadi mualaf.
Diakhir tulisan saya hanya mau titip pesan buat bapak “Bapak fokus bekerja saja, karena sejatinya pembenci akan tetap menjadi pembenci, sedangkan yang senang sama kita tidak akan pernah mencari salah kita, ia akan terus mendukung langkah kita, dan untuk lawan politiknya, mari bertarung secara sehat di 2029,”. “Sama kalau bisa titip copot kadis yang tak bisa kerja, ini bukan susah bapak saja, hal-hal kecil, tak mesti Bapak yang terlalu jauh turun ke bawah”.
Foto hanya pemanis, sudah ada yang punya barang ini. Dia hanya pura-pura berani sama Istrinya didepan kawan tongkrongannya.*










