Oleh: Andi Syahrir
Ada yang ganjil dalam matematika Tuhan. Kita diajari sejak sekolah dasar bahwa pengurangan selalu memperkecil nilai. Punya sepuluh, dikurang tiga, tinggal tujuh. Rumus itu mutlak di atas kertas.
Tetapi di hamparan kehidupan, di wilayah yang gaib dan tak tersentuh oleh kalkulator akuntan publik, rumus itu sering kali rontok. Itulah sedekah. Ia adalah satu-satunya bentuk pengurangan yang melahirkan pelipatan.
Beberapa hari ini, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, diperbincangkan publik. Dalam waktu sembilan bulan menjabat, hartanya tercatat meningkat sekitar Rp 49,4 miliar.
Di era transparansi seperti sekarang, wajar jika publik menyoroti setiap digit angka yang berubah dari seorang pejabat. Nalar publik yang terbiasa disuguhi drama korupsi, angka tersebut tentu memancing tanya dan curiga.
Bagaimana mungkin seorang pejabat, dalam waktu kurang dari setahun, bisa menumpuk puluhan miliar? Dari mana asalnya? Proyek apa yang melintas?
Di sinilah kita butuh jeda. Kita butuh melihat angka-angka itu tidak sekadar teropong hukum positif, melainkan dengan kacamata spiritualitas. Kita perlu melihat bagaimana cara ilahiah bekerja di balik angka-angka itu.
Andi Sumangerukka, atau yang karib disapa ASR, sudah dikenal sebagai seorang pengusaha yang sangat sukses dan kaya raya. Latar belakang militernya yang disiplin berpadu dengan ketajaman bisnis yang membuatnya mapan secara finansial. Dia sudah kaya raya—dalam arti yang paling harfiah.
Pun, sejak lama, masyarakat Sultra tahu betapa ringannya tangan ASR. Ia menjadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidupnya. Namun, dunia ini seringkali sinis terhadap kebaikan. Ketika ada orang kaya yang gemar bersedekah, sebagian orang menuduhnya memiliki pamrih. Namun waktu dan konsistensi tidak pernah berbohong.
Dia menyedekahkan miliaran rupiah hartanya bukan saat di Sultra saja, namun kebiasaan berbagi itu telah melekat kuat sepanjang perjalanan hidupnya.
Sebagai penganut Islam yang taat, ia meyakini benar kandungan Surah Al-Baqarah ayat 261. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.
Janji ini bukan metafora puitis belaka. Ini adalah hukum alam semesta yang bekerja secara presisi. Ketika ASR melepaskan sebagian hartanya dengan ikhlas untuk membantu rakyat, dia sebenarnya sedang menanam benih di tanah yang paling subur: rida Tuhan.
Bagi ASR, harta yang dia miliki dipandangnya bukan sebagai hak milik mutlak, melainkan titipan yang harus segera dialirkan. Air yang mengalir akan tetap jernih, air yang menyumbat akan menjadi sarang penyakit.
Ketika karakteristik kedermawanan yang konsisten ini dihadapkan pada lonjakan hartanya saat ini, kita diingatkan pada konsep the law of attraction dalam perspektif spiritual. Getaran energi pikiran dan emosi yang terpancar ke semesta pada gilirannya akan menarik realitas hidup kembali kepada diri sendiri.
Tokoh filantropi modern seperti Lynn Twist dalam bukunya The Soul of Money menjelaskan bahwa uang bertindak seperti air. Ketika ia dialirkan dengan maksud baik untuk menolong sesama, ia menciptakan arus balik kelimpahan yang lebih besar kepada sumbernya.
Sosiolog terkemuka Pitirim Sorokin juga pernah mengemukakan teori tentang Amitology atau ilmu tentang cinta kasih altruistik. Sorokin berargumen bahwa tindakan menolong orang lain secara tulus melahirkan energi sosial yang luar biasa, yang pada gilirannya sering kali memicu respons positif lingkungan sekitar—termasuk peluang-peluang ekonomi dan kepercayaan bisnis—yang mempercepat akumulasi kesejahteraan sang penolong.
Dalam dunia bisnis modern, para pakar keuangan pun mulai mengakui adanya kecerdasan spiritual dalam finansial. Ketika seorang pengusaha atau pemimpin tidak lagi melekat pada hartanya dan menjadikannya alat sosial, reputasi kebaikan tersebut menjadi aset tak berwujud (intangible asset) bernilai tinggi.
Kepercayaan mitra bisnis meningkat, peluang investasi datang sendiri, dan keberkahan usaha melipatgandakan keuntungan.
Ada fenomena yang disebut sebagai the economics of altruism atau ekonomi altrusitik. Tokoh seperti Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, berkali-kali mengingatkan bahwa kesejahteraan dan keberuntungan ekonomi sering kali berkaitan erat dengan modal sosial dan jaringan kepercayaan yang dibangun dari kerelaan berbagi.
Namun, melampaui teori Amartya Sen, ada penjelasan yang lebih purba. Ini adalah kompensasi langit. Tuhan tidak pernah berutang kepada hambanya yang dermawan.
Ketika ASR mengosongkan satu wadah hartanya untuk rakyat, Tuhan mengisi wadah tersebut dari arah yang tidak disangka-sangka. Kenaikan harta itu adalah sebuah demonstrasi visual dari Allah SWT.
Perjalanan hidup ASR mengajarkan kita tentang arti melepaskan. Bahwa untuk menggenggam sesuatu yang lebih besar, kita harus berani membuka tangan dan melepaskan apa yang kita miliki saat ini.
Melihat fenomena ASR, kita diingatkan pada sebuah kutipan popular. Kalau kamu berani memberi kepada pencipta-Nya lewat makhluk-Nya, bersiap-siaplah kewalahan menerima kembaliannya.
Kita mungkin lupa bahwa di balik setiap rupiah yang meningkat dalam laporan LHKPN itu, barangkali ada satu lirihan doa seseorang yang mengetuk pintu langit. Barangkali ada satu tetes air mata haru seseorang yang menggetarkan arasy. Doa-doa itulah yang menjelma menjadi energi magnetik yang menarik rezeki dari segala penjuru.*










