Oleh: Jeje
Ada konflik yang selesai di ruang sidang.
Ada yang selesai di meja perundingan.
Tetapi ada konflik yang sekeras apa pun putusan hukumnya nanti, tetap meninggalkan luka bila hubungan keluarganya tidak dipulihkan.
Konflik Ruksamin dan Jalil terasa berada pada jenis yang terakhir.
Masyarakat melihat perkara hukum. Publik mengikuti perkembangan penyidikan, penetapan tersangka, hingga berbagai pernyataan dari kedua kubu. Itu sah. Negara memang harus bekerja berdasarkan hukum.
Namun, di balik semua itu, ada satu fakta yang sering terlupakan: mereka masih memiliki ikatan keluarga.
Justru karena itulah, konflik ini menjadi lebih rumit. Yang retak bukan sekadar hubungan dua orang, tetapi juga hubungan antarkerabat. Anak-anak melihat. Orang tua ikut menanggung beban. Saudara harus memilih berpihak. Lingkungan ikut terbelah.
Hukum bisa menentukan siapa benar dan siapa salah menurut alat bukti.
Tetapi hukum tidak selalu mampu mengembalikan kehangatan sebuah keluarga.
Dalam budaya Sulawesi Tenggara, keluarga memiliki tempat yang istimewa. Perbedaan pendapat boleh terjadi. Sengketa bisa muncul. Namun, sedapat mungkin pintu perdamaian tidak pernah benar-benar ditutup.
Damai bukan berarti menghapus proses hukum.
Damai juga bukan berarti mengakui kesalahan yang belum tentu terbukti.
Damai adalah kesediaan untuk menghentikan permusuhan yang berkepanjangan. Menyisakan ruang untuk saling menghormati, meski mungkin tidak lagi sejalan.
Publik tentu berharap proses hukum berjalan objektif, transparan, dan tanpa intervensi. Biarlah penyidik, jaksa, hingga hakim bekerja sesuai kewenangannya.
Tetapi keluarga memiliki ruang lain yang tidak dimiliki hukum.
Ruang itu bernama maaf.
Maaf tidak selalu menghapus perkara. Namun, maaf sering kali mampu menghentikan dendam.
Sejarah menunjukkan, banyak konflik besar berakhir bukan karena salah satu pihak kalah. Konflik berhenti karena ada yang lebih dahulu memilih mengalah.
Mengalah bukan berarti lemah.
Justru dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk meredam ego daripada memenangkan pertengkaran.
Ruksamin adalah tokoh yang pernah memimpin daerah. Jalil juga memiliki posisi dan kehormatan di tengah keluarga serta masyarakat. Keduanya memiliki nama yang dikenal publik.
Karena itu, apa pun langkah yang mereka ambil akan menjadi contoh.
Jika yang ditunjukkan adalah pertikaian tanpa akhir, masyarakat akan mengingat konflik itu.
Namun, jika suatu hari keduanya memilih duduk bersama, berjabat tangan, lalu mengakhiri permusuhan, itulah yang akan dikenang lebih lama.
Tidak ada keluarga yang benar-benar menang ketika sesama saudara saling bermusuhan.
Yang menang hanyalah ego.
Sedangkan yang kalah adalah hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Semoga hukum tetap berjalan pada relnya.
Dan semoga, ketika semuanya selesai, masih ada ruang bagi dua anggota keluarga ini untuk kembali saling menyapa.
Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah memenangkan perkara.
Melainkan memenangkan hati, demi mengembalikan arti sebuah keluarga.*










