Oleh: Irpan
26 September 2019 ternyata Tujuh tahun yang lalu, saat itu saya masih baru dua minggu menekuni profesi kuli tinta. Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Tetapi ada perkara yang tidak ikut bergerak maju.
Nama Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi masih disebut setiap September. Spanduk kembali dipasang, Diskusi kembali digelar dan jalanan kembali menjadi ruang untuk mengenang.
Lalu acara selesai, Lampu panggung dipadamkan, Spanduk diturunkan, Kita pulang, dan tahun depan kita ulangi lagi.
Di situlah pertanyaannya, apakah peringatan Randi-Yusuf akhirnya hanya menjadi agenda tahunan? Bukan berarti mengenang itu tidak penting, Justru sangat penting. Sebab bangsa yang sehat adalah bangsa yang tidak mudah melupakan tragedi.
Tetapi mengenang seharusnya bukan sekadar mengulang acara, Mengenang semestinya melahirkan sesuatu.
Pertanyaan yang lebih besar masih menggantung hingga tahun ketujuh, siapa yang menembak Muhammad Yusuf Kardawi?
Pertanyaan itu belum memperoleh jawaban yang benar-benar memberi rasa keadilan bagi keluarga dan masyarakat.
Tujuh tahun bukan waktu yang pendek, Bagi keluarga, tujuh tahun adalah tujuh kali melewati ulang tahun tanpa orang yang mereka cintai. Tujuh kali melihat kalender September datang dengan pertanyaan yang sama.
Siapa yang bertanggung jawab?, Dan mengapa sampai sekarang jawabannya belum terang? Ada persoalan lain yang juga terasa. Ego bendera, Masing-masing lembaga masih membawa benderanya sendiri. Masing-masing kelompok datang dengan identitasnya sendiri.
Padahal Randi dan Yusuf bukan milik satu organisasi, Bukan milik satu fakultas, Bukan milik satu kelompok dan Bukan pula milik satu generasi mahasiswa.
Mereka adalah bagian dari sejarah kemanusiaan di Kendari, Sultra bahkan Indonesia.
Karena itu, semestinya peringatan mereka juga menjadi ruang bersama, Bukan ruang untuk menunjukkan siapa paling berjasa mengingat, Bukan panggung untuk mempertahankan sekat.
Bukan pula arena untuk membuktikan bahwa kelompok A lebih dahulu bergerak daripada kelompok B. Kalau semua masih membawa bendera masing-masing, kapan kita membawa satu bendera yang sama? Bendera kemanusiaan.
Saya kira ada satu hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan, Bangun monumen. Bukan karena batu dan semen bisa menyelesaikan persoalan. Bukan, Monumen tidak akan mengembalikan Randi dan Monumen juga tidak akan menghidupkan Yusuf.
Tetapi monumen bisa menjadi penanda bahwa kota ini pernah mengalami sebuah tragedi. Bahwa ada dua mahasiswa yang kehilangan nyawa. Bahwa ada sejarah yang tidak boleh dihapus begitu saja.
Bahwa generasi setelah mereka harus tahu, pernah ada darah mahasiswa yang tumpah di tanah ini.
Tapi tujuh tahun berlalu, monumen peringatan itu juga belum kunjung berdiri. Lagi-lagi kita hanya punya acara, Punya spanduk, Punya diskusi dan Punya foto bersama. Tetapi belum punya penanda sejarah yang bisa bertahan puluhan tahun. Padahal spanduk hanya bertahan beberapa hari. Dan monumen bisa bertahan puluhan tahun.
Mungkin sudah waktunya cara kita memperingati Randi-Yusuf diubah. Tidak perlu semakin ramai, Tidak harus semakin banyak panggung, Yang dibutuhkan justru semakin substantif.
Perlu ada ruang bersama untuk membuka kembali dokumen, fakta, proses hukum, dan seluruh informasi yang berkaitan dengan peristiwa September 2019.
Perlu ada keberanian untuk bertanya kembali. Perlu ada kesediaan semua pihak duduk dalam satu meja. Tanpa bendera, Tanpa klaim, Dan tanpa ego organisasi.
Karena ketika dua mahasiswa telah kehilangan nyawa, persoalannya sudah lebih besar daripada kepentingan lembaga mana pun.
Tujuh tahun seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak. Bukan sekadar bertanya, “Acara tahun ini di mana?”
Tetapi bertanya, Apa yang sudah berubah setelah tujuh tahun? Apakah kita sudah mengetahui siapa penembak Yusuf Kardawi Apakah keluarga sudah mendapatkan jawaban yang mereka cari?.
Apakah ada monumen yang mengingatkan generasi berikutnya? Apakah mahasiswa hari ini memahami apa yang terjadi pada September 2019?
Dan yang paling penting, Apakah kita benar-benar belajar dari tragedi itu? Kalau jawabannya belum, maka mungkin ada yang keliru dalam cara kita mengenang.
Sebab peringatan yang hanya menghasilkan peringatan baru, pada akhirnya memang berisiko menjadi seremonial belaka.
Randi dan Yusuf tidak membutuhkan seremoni yang lebih besar. Mereka membutuhkan sejarah yang tidak dilupakan. Keluarga mereka membutuhkan jawaban.
Dan kota ini membutuhkan keberanian untuk terus mengingat, bukan hanya setiap September, tetapi sampai persoalan yang belum selesai benar-benar mendapatkan titik terang.*













