KENDARIKINI.COM – Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menilai Presiden Prabowo Subianto berpeluang menjadi juru damai Korea Utara dan Korea Selatan.
Penilaian itu menyusul permintaan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung agar Indonesia membantu menjembatani hubungan kedua negara.
Menurut Teguh, Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Seoul maupun Pyongyang sejak era Presiden Soekarno.
Posisi netral Indonesia dinilai menjadi modal penting dalam membangun kembali dialog damai di Semenanjung Korea.
Penulis buku Reunifikasi Korea: Game Theory itu meyakini kepemimpinan Prabowo relevan untuk mendorong diplomasi perdamaian kawasan.
Ia juga menyatakan siap memberikan masukan kepada pemerintah Indonesia demi mendukung misi perdamaian tersebut.
Teguh menilai momentum kembali terbuka karena Presiden Lee berasal dari kubu progresif yang mengedepankan dialog dengan Korea Utara.
Meski begitu, ia mengingatkan kondisi politik kedua Korea kini berbeda dibanding proses perdamaian pada 2018 dan 2019.
Hubungan kedua negara terus mengalami pasang surut sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 1953.
Pada 2024, Kim Jong Un menghapus agenda reunifikasi dan menetapkan kebijakan dua negara melalui perubahan konstitusi.
Teguh menegaskan hambatan politik masa lalu harus dikesampingkan demi tercapainya perdamaian permanen di Semenanjung Korea.
Ia berharap Indonesia di bawah Presiden Prabowo dapat berperan mengubah gencatan senjata menjadi perjanjian damai yang berkelanjutan.*










