KENDARIKINI.COM – WALHI Sulawesi Tenggara menilai kerusakan lingkungan di kawasan industri Morosi semakin mengancam kesehatan dan penghidupan masyarakat.
Kondisi tersebut dialami warga Desa Tani Indah, Konawe, dan Desa Banggina, Konawe Utara, yang bergantung pada tambak dan pertanian.
Direktur WALHI Sultra, Andi Rahman, mengatakan banyak warga ingin pindah, namun terkendala ekonomi dan keterikatan dengan kampung halaman.
Menurutnya, tambak, sawah, dan laut menjadi sumber penghidupan utama masyarakat selama bertahun-tahun.
WALHI menyebut hasil uji laboratorium sebelumnya menemukan kandungan logam berat pada sumber air melebihi baku mutu.
Temuan itu, kata Andi, menjadi salah satu pertimbangan pengadilan dalam putusan pencemaran lingkungan terhadap PT Obsidian Stainless Steel.
Ia mengungkapkan produktivitas tambak terus menurun, bahkan ribuan bibit ikan bandeng dilaporkan mati akibat kualitas air.
Selain kerugian ekonomi, warga juga mengeluhkan gangguan kulit setelah menggunakan air yang diduga tercemar.
WALHI turut menyoroti meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sekitar kawasan industri Morosi.
Menurut Andi, data yang dihimpun menunjukkan sekitar 5.000 kasus ISPA terjadi setiap tahun, termasuk pada balita.
Perwakilan warga, Anas, mengatakan udara kini tidak lagi sehat, sementara tambak semakin tidak produktif selama hampir sepuluh tahun.
Ia menegaskan gugatan masyarakat bukan semata menuntut ganti rugi, tetapi meminta pemulihan lingkungan dan perlindungan hak warga.
Kuasa hukum masyarakat, Rahman, menegaskan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap wajib dilaksanakan seluruh pihak.*










