BOGOR, KENDARIKINI.COM — Diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang formal. Percakapan santai pun mampu melahirkan visi besar antarbangsa.
Hal itu tercermin dalam pertemuan Bung Karno dan Kim Il Sung di Kebun Raya Bogor, 13 April 1965.
Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-RRD Korea, Teguh Santosa, mengingat lahirnya bunga Kimilsungia sebagai simbol kedekatan emosional.
“Nama bunga itu bukti kuat hubungan kedua pemimpin yang melampaui birokrasi,” ujar Teguh, Kamis (9/4/2026).
Peringatan digelar di Griya Anggrek, Kebun Raya Bogor, dihadiri pejabat diplomatik dan akademisi.
Hadir perwakilan Kedubes Korea Utara, Kemlu RI, BRIN, tokoh politik, serta mahasiswa berbagai universitas.
Kegiatan juga diramaikan pameran foto dan buku dari Kedubes Korea Utara.
Teguh menilai kunjungan Kim Il Sung pada April 1965 bukan sekadar kenegaraan.
Kunjungan itu menjadi simbol persahabatan tulus dua bangsa Asia yang menjunjung kedaulatan dan solidaritas.
Saat itu, Kim Il Sung menghadiri peringatan Konferensi Asia-Afrika dan menerima penghargaan dari Indonesia.
Ia juga memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia.
Teguh menekankan pentingnya memperluas kerja sama lintas sektor antara kedua negara.
Kolaborasi mencakup budaya, pendidikan, hingga pertukaran pemikiran pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, semangat 1965 menjadi modal sosial menjaga stabilitas Semenanjung Korea.
Momentum peringatan ini diharapkan memperkuat komitmen hubungan bilateral yang lebih produktif.
Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes Korea Utara, So Kwang Yun, menyebut hubungan kedua negara semakin signifikan.
Hal itu ditandai kunjungan Menlu RI Sugiono ke Korea Utara pada Oktober 2025.
Kunjungan tersebut menghasilkan pertukaran pandangan dan penguatan kerja sama strategis.
Penandatanganan MoU konsultasi bilateral turut memperkokoh hubungan kedua negara.
Indonesia juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas kawasan, termasuk Semenanjung Korea.*










