KENDARIKINI.COM – Keluarga Besar Save Routa (KBSR) menuding PT SCM menjalankan strategi adu domba di tengah masyarakat Routa.
Sekjen Save Routa, Jefri Rembasa, menyebut dugaan itu muncul saat kunjungan DPD yang turut melibatkan sejumlah lembaga.
“Di momentum kunjungan DPD, mereka diduga membuat aksi tandingan,” ujar Jefri, Kamis 9 April 2026.
Jefri yang juga Gubernur LIRA Sultra menilai PT SCM tidak fokus pada pembangunan smelter, melainkan menggerakkan pihak tertentu untuk pembelaan.
“Sama saja mereka adu domba kami dengan lembaga lain, masyarakat juga dibuat pro kontra,” tegas jebolan aktivis HmI.
Jefri juga menyoroti belum adanya realisasi pembangunan smelter di wilayah tersebut.
“Minimal lakukan peletakan batu pertama jika memang serius,” kata lulusan sarjana Pertambangan UHO.
Selain itu, ia menyinggung kewajiban rekayasa sosial sebelum aktivitas pertambangan dijalankan.
Menurutnya, masyarakat terdampak harus mendapat ganti rugi jelas, pelatihan, dan kesempatan kerja.
“Petani dan pekebun tidak cukup diberi ganti rugi, harus diberdayakan,” ujarnya.
Ia juga mengkritik dugaan kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan haknya.
“Ganti rugi tidak jelas, malah ada warga dipolisikan,” ungkapnya.
Jefri menilai kondisi tersebut sebagai bentuk ketidakadilan yang merugikan masyarakat lokal.
Ia juga mengingatkan ancaman terhadap lahan adat, potensi wisata, dan keanekaragaman hayati Routa.
“Kami akan terus memperjuangkan enam tuntutan Save Routa,” pungkasnya.
Adapun enam tuntutan tersebut meliputi pembangunan smelter, audit CSR, prioritas tenaga kerja lokal, audit perusahaan, penyelesaian ganti rugi lahan, serta penghentian kriminalisasi warga.*










