Oleh: Irpan, Kuli Tinta
Malam tadi Rabu 29 April 2026 saya tertidur sekitar pukul 23.00 WITA, dan seperti biasa saya akan terbangun lagi cepat karena lapar gegara kebiasaan makan tengah malam, tadi saya bangun sekitar pukul 02.00 WITA, Kamis 30 April 2026.
Saat mata terbuka, ku tanya istri mana telepon genggamku, Ia jawab dengan lembut sembari mencarikannya. Kemarin ia sempat merajuk, kalau ia sudah merajuk pasti saya keluar rumah, pulang saat merajuknya sudah redah.
Ku lihat jam di teleponku, kukumpul nyawa untuk beranjak dari tempat tidur, di sela-sela itu saya berbisik minta dibuatkan kopi hitam racikan istri, dan disiapkan makan. Saya juga minta dibawakan semua perlengkapan tempur ku ke sudut dapur kami, tempat favoritku menumpahkan semua kegelisahanku dalam bentuk tulisan. Karena dari beberapa hari ini saya sudah niatkan untuk membuatkan tulisan untuk Bapak Anton Timbang (AT). Saya tahu banyak resiko menulis ini, utamanya saya akan dikatai ‘Penjilat’.
Sebelum mengulas itu, Dulu saat mahasiswa dan menjadi Ketua organisasi mahasiswa eksternal kampus, kata kebanyakan kawan-kawan saya gagal dalam memimpin organisasi. Saya pernah tak mau lagi menempuh jalan yang tidak kebanyakan dipilih oleh anak kota macam saya. Saya juga bertempur di dua arus, jabatan organisasiku berusaha dilengserkan oleh sebagian besar kawan-kawan, dan saya ditantang oleh Adik dari orang yang memberi tumpangan sekretariat. Untuk membuat gerakan agar jalan di Tikungan Pasar Baru Jalan MT Haryono Kendari Diaspal. Di pertempuran organisasi saya kalah, berhasil di kudeta, Soal jalan saya menang, Jalan itu diaspal dan ada kepuasan batin tersendiri. “Saya tidak suka ditantang, karena sejak kecil Almarhum Bapakku merakitku untuk melawan tantangan dari siapapun itu, soal hasil urusan belakang,”.
Kembali ke rumah, saya murung karena kehilangan jabatan organisasi. Mama pun menghampiriku. “Kenapa Nak?,” begitu ucapnya. Saya bercerita dengan Mama menumpahkan keluh kesahku. Mama hanya menjawab “Mama selalu dukung langkah Irpan, Irpan selalu benar di mata Mama, Tapi jangan demo-demo lagi nak, Irpan menulis saja,”. Sebelumnya beberapa tulisanku terbit di Kendari Pos dibantu oleh beberapa senior, kegiatan organisasiku ditayangkan. Demo ku pernah tayang di Kendari Info, bahkan tayang di TV, dan beberapa media lainnya karena aksi unikku demo seorang diri. Saya berusaha sembuh dari kekalahanku di organisasi. Saya melamar kerja di media online Sultrademo.co, gaji pertamaku kuberikan kepada Mama.
Baik, kita fokus dengan judul tulisan diatas. Ia karib dipanggil Pak AT, Kanda AT, Bos AT, dan panggilan lainnya. Semua ia terima, pertama bertemu dengan Bapak ini saat saya awal saya menekuni profesi ini. Kisaran Akhir di Tahun 2019. Saat itu ia sementara rapat persiapan kegiatan IMI Sultra. Saat itu ia belum jadi Ketua KADIN Sultra. Saya berkesempatan mewawancarainya.
Kesan pertama saya dengan dia sangat baik. Kemudian di 2020 kami kembali bertemu di bulan April 2020, Saya dibawa oleh senior-seniorku. Saat itu ada proyek berita politik yang kami tawarkan, salah satunya tak usah saya sebut, cari tahu saja sendiri wahai netijen yang maha benar. Yang satunya lagi terkait skema pencalonan anaknya Yudhianto Mahardika menjadi 02 Wali Kota Kendari, Ternyata dia senior saya di kampus. Dua proyek pemberitaan itu ia amini, bahkan kami diambilkan hotel untuk standby bekerja bersama tim kecil kami.
Yang pertama proyek itu berhasil, yang kedua karena pilkada serentak diundur, kami mesti menghentikan proyek itu. Saya los kontak, berusaha dekat kembali dengan jalan instan, saya memilih jalan ekstrim. Memberitakan perusahaan tambangnya, PT Masempo Dalle.
Saat itu salah satu Mahasiswa Sultra yang berkuliah di Jakarta melalukan aksi demonstrasi. Ia mengirim pres release ke saya, saya olah menjadi sebuah berita, mengkonfirmasi ke semua pihak, agar berita yang saya sajikan memenuhi aturan main. Tak berselang lama berita saya diterbitkan oleh media tempat saya bekerja, dulu saya belum benar-benar berdiri mengelola media kami kendarikini.com, saya nyambi bekerja di beberapa media. Berita terbit, kemudian saya hambur di group-group Whats App. Lalu saya diteror dan sebagainya. Jejak digitalnya di om google masih ada tidak terhapus (Take Down 404), Disusul dengan berita-berita lanjutan lainnya. Silahkan cari sendiri. Sampai saya di pesantren sekitar 5 Bulan setengah. Banyak pelajaran yang saya petik saat itu, banyak penghianatan dalam perjalananku bersama Istri, saat itu kami masih berpacaran. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan dan masih banyak lagi. Usai keluar dari Pesantren saya dan istri berdamai dengan masa-masa itu. Saya berpesan ke Istri “Beri kesempatan dua kali dalam berkawan tapi tidak untuk kali ketiga, Saya Lawan Ko,”. Prosesnya begitu panjang, menguras energi dan pikiran, itu salah satu pertempuran yang begitu paling berat bagiku.
Ditengah proses peradilan Pak AT memaafkan saya. Mungkin ia melihat keteguhan sikap seorang Mama dan perempuan muda yang kini menjadi Istriku untuk memperoleh maaf darinya. Padahal Tulisanku di media dulu sangat kejam, bahkan begitu sombongnya saya pernah berkata mau menumbangkan Pak AT. Selain pemaaf bapak ini juga dermawan cari saja di google banyak jejak digitalnya.
Mungkin berkisar dua tahun saya sudah berkawan dengan Bapak ini. Sebagai bentuk balas budiku terhadap kebaikan bapak, saya tumpahkan semua dalam bentuk tulisan ini.
Kini ia sedang berproses hukum, semoga ini cepat terselesaikan. Bapak orang baik, bapak sudah banyak bantu orang, dan banyak yang doakan bapak.
Saya tak mau menulis tentang proses hukumnya, karena tulisanku pasti akan subjektif karena kebaikan bapak ini kepadaku. Kalau mau adil menyoroti perusahaan tambang semua ada celahnya, tak ada yang benar-benar menerapkan kaidah penambangan yang baik. Kalau ada yang berani bantah mari kita debat terbuka, buka-bukaan data perusahaan tambang di Sultra.
Kututup tulisan ini dengan kutipan terkenal dari Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia “Berusaha adil sejak dalam pikiran,”. “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” kata Tan Malaka. Saya bukan lagi pemuda lajang seperti Tan Malaka, saya sudah menikah jadi saya tak lagi idealis hanya memegang beberapa prinsip dalam berkawan.
Foto hanya pemanis, walapun saya tak manis, tak tampan dan tak berduit. Wahai kaum hawa, jangan suka chat saya kalau saya lagi dirumah, nanti ia merajuk lagi, saya paling takut tak dibuatkan kopi hitam oleh Istriku.*










