Oleh: Luthfi Badiul Oktaviya, Mantan Sekum KOHATI Badko HmI Sultra dan Mantan Sekretaris PERUMDA Sultra
Sedikit penuh risiko menulis ini, tapi ingin tetap ku tuangkan dalam bentuk tulisan.
Aku pernah lama bergelut dengan pertanyaan dalam diri, “Apakah pria benar-benar bisa setia?” Ini adalah pertanyaan yang membuat kebanyakan perempuan takut akan jawabannya.
Hingga pada saat aku menulis ini, aku sedikit memahami bahwa kesetiaan pria bukan tentang tidak tertarik pada perempuan lain. Setiap pria yang normal akan selalu memperhatikan wanita lain, yang lebih cantik, yang lebih langsing, yang lebih putih, yang lebih tinggi, yang lebih montok, yang lebih sexy dan mata pria akan selalu mencari yang lebih. Itu naluriah biologis. Tapi memilih untuk tidak “bertindak”, itu adalah suatu hal yang berbeda.
Yang membuat pria memilih untuk menetap adalah bukan karena pria tidak memiliki pilihan yang lain. Setiap pria pasti memiliki banyak pilihan/opsi, wanita A, B, C, D dan seterusnya. Pria memilih setia bukan karena ia tidak ada yang mau juga. Namun sepemahaman ku, pria memilih setia itu karena pria telah menemukan sesuatu yang tidak ingin ia “pertaruhkan” lagi.
Kebanyakan kita kaum perempuan berfikir bahwa, pria setia karena takut. Takut ketahuan, takut pasangan marah, takut dosa, takut kehilangan. Padahal, kesetiaan pria yang dibangun dari rasa takut itu adalah kesetiaan yang paling rapuh. Kesetiaan itu akan runtuh apabila datang kesempatan yang memiliki risiko yang terasa kecil bagi pria.
Lalu, kesetiaan pria yang sesungguhnya datang dari mana? Dari rasa hormat yang dalam. Bukan rasa hormat pada perempuan yang ia pilih saja. Melainkan “rasa hormat yang mendalam terhadap diri pria itu sendiri”.
Itulah dalam hati saya sering menyebut, istilah “murahan” itu tidak boleh hanya disematkan untuk kaum perempuan. Seperti yang sering digaung-gaungkan pria kepada perempuan. Ada juga pria yang memilih menjadi “pria murahan” karena tidak menghormati dirinya sendiri.
Pria yang memilih setia dan tidak berselingkuh, itu bukan karena pria tidak bisa melakukan perselingkuhan. Dia bisa saja melakukan itu. Tapi “pria memilih setia karena rasa hormat terhadap dirinya sendiri, jauh lebih dalam” dibanding keinginannya pada wanita A, B, C, D yang lebih-lebih itu tadi. Nah, rasa hormat terhadap diri sendiri ini yang membuat pria mau menjadi versi dirinya yang tidak mau melakukan perselingkuhan.
Kedengarannya seperti menyakitkan bagi kami kaum perempuan, karena ini bukan tentang seberapa besar kadar cinta pria terhadap pasangannya. Tapi tentang egonya.
Inilah yang membuat sulit perempuan pahami, karena kami perempuan mahluk yang sangat mengedepankan perasaan. Pria tidak setia karena cinta saja, sebab cinta bisa pudar. Pria setia karena dia memegang teguh prinsip dan nilai “siapa dirinya”. Cinta bagi pria hanyalah alasan untuk memulai, sedangkan karakter adalah alasan untuk bertahan.
Jadi, jangan pernah lagi berfikir perempuan bisa membuat pria setia, karena itu adalah tabiat diri pria. Kalau dia suka selingkuh, ya berarti memang tabiat, karakter dan rasa hormat pada dirinya sendiri minim. Kami perempuan tidak bisa rubah itu. Tidak ada perempuan yang bisa menjamin kesetiaan pria. Ini adalah kenyataan pahit yang harus ditelan mentah bagi perempuan. Perempuan paling cantik, paling baik, paling sempurna sekalipun tetap bisa dikhianati. Karena kesetiaan itu adalah keputusan dalam diri pria itu sendiri.
Menelan kenyataan pahit ini bagi perempuan bukanlah sebuah kepasrahan, melainkan bentuk pembebasan. Artinya, tugas kita sebagai perempuan bukan membuktikan bahwa kita adalah perempuan yang layak untuk tidak diselingkuhi. Tugas kita sebagai perempuan bukan merubah diri menjadi seperti apa yang pria inginkan. Melainkan, tugas kita adalah mengenal pria sejak awal, apakah pria ini memiliki karakter yang membuatnya memilih setia?
Selama ini kaum perempuan hanya memahami bahwa cinta yang dalam pasti menjamin pria akan setia. Padahal, yang menjamin kesetiaan bukan dalamnya cinta, melainkan dalamnya karakter pria untuk menjadi pria yang benar-benar memiliki rasa hormat pada dirinya sendiri.
Foto hanyalah pemanis, jangan macam-macam perempuan dalam foto ini adalah Istri yang punya media kendarikini.com.*










