Oleh: Muhammad Endang SA
Akhir-akhir ini rasanya Kita sering melihat banyak ceramah yang menggambarkan Tuhan itu seperti: galak, cepat marah, dan tidak bisa diajak kompromi.
Lalu setelah pengambaran Tuhan seperti itu kemudian muncullah “jalan menuju Tuhan” versi masing-masing.
Masalahnya, tiap kelompok merasa jalannya itu satu-satunya yang paling benar. Yang lain? Ya, dianggap salah. Akhirnya Tuhan jadi seperti “diperebutkan hak patennya”. Siapa paling benar, dia yang “punya akses VIP ke surga”.
Yang agak bikin sesak, isi “jalan” yang ditawarkan dan dipertentangkan itu seringnya cuma berputar di hal-hal ritual pribadi seperti: cara berpakaian, simbol-simbol lahiriah, dan sejenisnya. Sampai-sampai kesannya: kalau tidak ikut gaya tertentu, langsung dianggap “kurang Islam” atau bahkan “bukan umat”.
Padahal kalau kita ingat lagi, tujuan awal pewahyuan Islam itu kan bukan cuma soal ritual, tapi juga membela yang lemah (mustadh’afin), melawan ketidakadilan, dan menghadirkan kemanusiaan. Nabi dan para rasul itu bukan cuma mengajarkan ibadah, tapi juga berdiri di sisi orang-orang yang tertindas tanpa peduli manhajnya, bahkan agamanya.
Implikasinya kalau praktik keagamaan terus seperti begini, lama-lama Islam bisa terasa jauh dari realitas hidup manusia, dari penderitaan, dari ketidakadilan dan dari masalah sosial yang nyata yang dihadapi manusia.
Dan kalau sudah sampai disitu, jangan-jangan… (ini agak ngeri!) Tuhan jadi terasa “jauh”, bahkan seperti “hilang” dari kehidupan kita. Bukan karena Tuhan benar-benar hilang, tapi karena kita sendiri yang mempersempit-Nya jadi milik kelompok tertentu saja dengan “jalan”yang tertentu juga. Jalan yang sering dinyatakan sebagai “pembelaan” kepada Tuhan.
Padahal, seperti kata Gus Dur, Tuhan itu tidak perlu dibela. Karena sudah kuat serba maha. Yang lebih butuh dibela itu manusia.
Nah, terus kita harus gimana?
Sudah waktunya kita mulai memikirkan ulang cara berdakwah dan “memahami” agama Kita. Bukan buat cari “jalan paling benar versi kelompok Saya”, tapi bagaimana agama bisa kembali jadi ruang yang memanusiakan manusia.
Meminjam istilah Bur Rasuanto, mungkin kita memang sudah butuh “peta surga” yang baru. Soalnya yang lama ini… selain sudah penuh, juga sering membuat kita saling dorong-dorongan bahkan sikutan di pintu masuk.
Tujuannya untuk mengembalikan agama (Islam) sebagaimana tujuan pewahyuannya, menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta alam, bagi semua. Bagi manusia siapapun dia, bagi alam. Yang muaranya mengembalikan Tuhan untuk semua.
Insha Allah dengan begitu Agama tidak akan menjadi sumber konflik, sumber perpecahan, sumber masalah bagi Kita umat manusia pemeluknya, namun sebaliknya akan menjadi tuntunan yang menjauhkan kekacauan dari peradaban umat manusia sebagaimana arti agama itu sendiri.*










